RADAR SURABAYA – Motorola Indonesia terus memperkuat eksistensinya di pasar smartphone Tanah Air.
Terbaru, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu meluncurkan portofolio perangkat terbaru yang menyasar kebutuhan konsumen Indonesia yang semakin kritis dan selektif terhadap teknologi.
Baca Juga: Rayakan HJKS, Pemkot Surabaya Hadirkan Tarif Parkir QRIS Cuma Rp 733, Catat Jadwal dan Lokasinya
Produk yang diperkenalkan meliputi smartphone premium Motorola Signature, Motorola Edge 70 Fusion, hingga aksesori audio Moto Buds Loop.
Ketiganya hadir dengan mengusung kekuatan fotografi premium, desain elegan, serta konektivitas ekosistem perangkat yang semakin terintegrasi.
Baca Juga: Denda Tak Buat Jera, Pemkot Surabaya Siapkan Hukuman Malu untuk Pembuang Sampah Liar
Head of Marketing Motorola Indonesia Miranda V Warokka mengatakan, peluncuran lini produk terbaru tersebut menjadi bagian dari komitmen Motorola menghadirkan teknologi premium yang lebih terjangkau dan relevan dengan kebutuhan pasar Indonesia.
“Melanjutkan komitmen untuk menghadirkan teknologi yang lebih cerdas bagi semua orang, Motorola memperluas lini produk sekaligus memperkuat kehadirannya di Indonesia. Peluncuran ini juga menandai langkah maju Motorola dalam menghadirkan teknologi yang berkelas, premium, dan terhubung secara sempurna bagi konsumen di Indonesia,” ujar Miranda, Jumat (8/5).
Baca Juga: SITS Jadi Mata Kota, Pemkot Surabaya Percepat Transformasi Smart City
Motorola juga mengusung kampanye bertajuk Gold Standard Photography untuk menonjolkan kualitas kamera pada perangkat terbarunya.
Dalam kegiatan peluncuran, media diajak mencoba langsung kemampuan kamera Motorola di kawasan Kota Lama Surabaya melalui sesi city tour menggunakan kendaraan khusus.
Baca Juga: Sulap Pasar Tembok Dukuh Jadi Lebih Modern, Pemkot Surabaya Lakukan Revitalisasi 15 Pasar
Menurut Miranda, konsep tersebut sengaja dipilih agar pengguna dapat merasakan langsung performa kamera dalam situasi nyata, termasuk kondisi bergerak cepat maupun minim cahaya.
“Kalau hanya presentasi atau mencoba di dalam ruangan, mungkin tidak akan terasa bagaimana manfaat handphone Motorola terbaru ini dalam penggunaan sehari-hari. Tadi mobil berjalan, harus cepat menangkap momen, kondisi low light, itu use case yang ingin kami tunjukkan,” katanya.
Pemilihan kawasan heritage seperti Kota Lama juga disebut memiliki pesan tersendiri.
Motorola ingin mengangkat sisi estetika dan nilai sejarah yang selama ini mulai terlupakan di tengah tren tempat modern dan kekinian.
“Belum tentu yang lama itu tidak keren lagi. Justru ada sisi sejarah dan estetika yang menarik untuk dieksplorasi,” imbuhnya.
Dari sisi teknologi kamera, Motorola menggandeng sejumlah mitra global seperti Sony LYTIA untuk sensor kamera, Bose untuk audio, hingga Dolby Vision dan Dolby Atmos guna meningkatkan kualitas multimedia perangkat.
Meski menggunakan sensor kamera Sony LYTIA di tiga kameranya, Motorola memilih lebih menonjolkan hasil akhir fotografi dibanding branding teknologi yang digunakan.
Salah satu indikator yang diandalkan adalah skor DXOMARK yang diklaim berada di posisi kedua di segmennya.
“Kami sebenarnya selalu menyampaikan bahwa ketiga kameranya memakai sensor Sony LYTIA. Tapi yang lebih kami tonjolkan adalah hasilnya, yang bisa dilihat dari standar DXOMARK,” jelas Miranda.
Selain kualitas kamera, Motorola juga menekankan strategi harga yang kompetitif di tengah pasar smartphone yang semakin sensitif terhadap value produk.
Menurut Miranda, konsumen saat ini, khususnya generasi Z, tidak lagi sekadar mengikuti tren, melainkan lebih kritis dalam mempertimbangkan manfaat dan harga sebuah perangkat.
“Sekarang yang spending mulai Gen Z. Mereka lebih kritis dan benar-benar mempertimbangkan apakah fitur yang ditawarkan layak dengan harga yang dibayar. Karena itu kami berusaha menghadirkan teknologi premium dengan harga yang tetap reasonable,” ujarnya.
Ia menyebut strategi tersebut menjadi alasan Motorola berani meluncurkan Motorola Signature dengan harga yang dianggap cukup kompetitif untuk kelas premium.
“Waktu harga kami reveal di Jakarta, banyak yang kaget, ‘Hah kok cuma segini?’ Karena menurut kami benchmark-nya memang harus seperti itu supaya masyarakat mendapatkan teknologi yang pantas dengan harga yang sesuai,” katanya.
Di sisi lain, Motorola juga mengakui industri elektronik saat ini menghadapi tantangan kenaikan harga chipset global yang berdampak pada berbagai perangkat teknologi, mulai smartphone hingga kendaraan.
“Kalau chipset naik, bukan cuma smartphone yang kena. Laptop sampai mobil juga terdampak karena sekarang semuanya memakai chipset,” jelas Miranda.
Meski begitu, hingga saat ini Motorola Indonesia mengaku belum melakukan penyesuaian harga untuk seluruh lini produk yang telah diluncurkan sejak Februari 2026.
Namun perusahaan masih akan melihat perkembangan pasar dan keputusan manajemen pada kuartal kedua tahun ini.
“Harga yang kami share saat ini masih harga sejak peluncuran 20 Februari dan belum ada adjustment sampai sekarang. Ke depan seperti apa, nanti kami lihat lagi mendekati akhir Mei dan Juni,” pungkasnya. (mus/vga)
Editor : Vega Dwi Arista