RADAR SURABAYA – Fenomena self-diagnosis atau diagnosis diri sendiri kian marak di era digital, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Praktik ini dilakukan dengan menentukan kondisi kesehatan berdasarkan gejala yang dirasakan serta informasi dari internet, media sosial, atau perangkat digital lain, tanpa pemeriksaan langsung oleh tenaga medis profesional.
Akses informasi yang cepat kerap dianggap membantu. Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa self-diagnosis menyimpan risiko serius bagi kesehatan fisik maupun mental.
Baca Juga: Gen Z Tak Mau Jadi Penonton, Bisnis Digital Jadi Pilihan Mulai Muda
Menurut Cleveland Clinic, self-diagnosis terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan tentang kondisi kesehatannya hanya dengan mengandalkan sumber daring seperti artikel, video, atau kuis kesehatan tanpa validasi medis. Kondisi ini membuat seseorang merasa sudah memahami masalah yang dialami, padahal belum melalui penilaian profesional.
Salah satu bahaya utama self-diagnosis adalah kesalahan menafsirkan gejala. Internet dipenuhi informasi yang tidak selalu akurat atau sesuai dengan kondisi individual. Dokumen Digital Information Services Authority (DISA) menyebutkan bahwa “internet adalah tempat yang tidak diatur di mana informasi medis yang salah atau menyesatkan dapat muncul berdampingan dengan sumber yang kredibel”.
Baca Juga: Mengenal Sedentary Lifestyle dan Dampaknya bagi Kesehatan
Akibatnya, seseorang dapat menganggap gejala ringan sebagai tanda penyakit serius, atau justru meremehkan kondisi yang membutuhkan penanganan medis. Kesalahan tersebut berpotensi menghambat penanganan yang tepat.
Selain itu, self-diagnosis juga dapat memicu kecemasan berlebih atau cyberchondria. Kondisi ini terjadi ketika pencarian informasi kesehatan secara daring justru meningkatkan rasa takut dan stres karena individu lebih dulu menemukan skenario terburuk dari gejala yang dialami.
Risiko lain yang disoroti para ahli adalah penundaan pencarian bantuan medis. DISA menegaskan informasi daring tidak mampu mempertimbangkan konteks medis personal, seperti riwayat kesehatan, gaya hidup, maupun faktor risiko spesifik yang sangat menentukan akurasi diagnosis. Ketika merasa sudah menemukan jawabannya di internet, seseorang cenderung menunda konsultasi ke tenaga kesehatan, bahkan dalam kondisi serius.
Baca Juga: Menteri Komdigi : Jawa Timur Memiliki Potensi Besar Dalam Pengembangan sumber SDM Digital
Laporan dari The National juga memperingatkan bahwa sebagian individu tidak hanya salah menilai kondisi kesehatannya, tetapi juga melakukan pengobatan sendiri tanpa bimbingan medis, termasuk membeli obat tanpa resep. Praktik tersebut dinilai berbahaya karena berisiko memperburuk gejala atau menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.
Para dokter dan psikolog menegaskan bahwa internet sebaiknya digunakan sebagai sarana untuk mengenali gejala secara umum, bukan sebagai pengganti diagnosis profesional. Masyarakat diimbau segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan agar memperoleh evaluasi dan penanganan yang tepat. (sry/fir)
Editor : M Firman Syah