RADAR SURABAYA - Sejak 29 Oktober 2025, OpenAI resmi memperbarui kebijakan penggunaan ChatGPT dengan membatasi fungsinya dalam memberikan saran medis, hukum, dan finansial.
Chatbot berbasis kecerdasan buatan ini kini hanya diperbolehkan menjelaskan prinsip umum dan tidak lagi memberikan rekomendasi langsung terkait obat, diagnosis, investasi, atau keputusan hukum.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran publik dan kasus nyata yang menunjukkan potensi bahaya dari penggunaan AI untuk kebutuhan sensitif.
Baca Juga: Pengedar Antarpulau Bawa Sabu 1,8 Kilogram Dituntut 15 Tahun Penjara di PN Surabaya
Alasan Pembatasan dan Risiko yang Dihadapi
Kebijakan baru ini muncul setelah sejumlah insiden yang melibatkan pengguna ChatGPT mengalami dampak serius akibat mengikuti saran medis yang tidak akurat.
Salah satu kasus yang mencuat adalah seorang pria di Amerika Serikat yang mengalami keracunan setelah mengganti garam dapur dengan natrium bromida atas saran ChatGPT. Ia dirawat selama tiga minggu dengan gejala halusinasi dan kelelahan.
Para ahli menegaskan bahwa AI seperti ChatGPT tidak memiliki akses terhadap riwayat medis pengguna, tidak mampu menafsirkan hasil laboratorium, dan tidak bisa memberikan perawatan yang sesuai.
Hal yang sama berlaku untuk saran finansial, di mana AI tidak dapat menilai profil risiko, kondisi pasar terkini, atau regulasi yang berlaku secara spesifik.
OpenAI menyatakan bahwa pembatasan ini bertujuan untuk mencegah pengguna mengambil keputusan penting berdasarkan informasi yang belum diverifikasi.
Mulai Oktober 2025, ChatGPT hanya boleh menjelaskan mekanisme umum seperti cara kerja sistem imun atau prinsip dasar investasi, tanpa menyebutkan nama obat, dosis, atau instrumen keuangan tertentu.
Pembatasan fungsi ChatGPT dalam memberikan saran medis dan finansial merupakan langkah penting untuk menjaga keselamatan dan akurasi informasi bagi pengguna.
Di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap AI, kebijakan ini menjadi pengingat bahwa teknologi tidak bisa menggantikan peran tenaga profesional.
Pengguna tetap disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter, penasihat keuangan, atau ahli hukum dalam mengambil keputusan penting. AI bisa menjadi alat bantu edukatif, tetapi bukan pengganti nasihat profesional. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari