Radar Surabaya – Kasus penipuan berbasis digital kembali marak dengan modus baru yang memanfaatkan aplikasi pesan instan dan media sosial. Pelaku kini tak hanya menyamar sebagai perekrut kerja palsu, tetapi juga menggunakan alasan personal seperti “bantu urus cuti” untuk menjerat korban. Tujuannya sama, mencuri data pribadi dan uang calon korban dengan tipu daya yang semakin halus.
Seiring kemajuan teknologi, akses terhadap informasi lowongan kerja kian mudah, termasuk melalui WhatsApp. Namun, kemudahan ini dimanfaatkan pelaku kejahatan siber yang berpura-pura menjadi perekrut perusahaan ternama dengan tawaran gaji tinggi dan proses seleksi cepat. Untuk meyakinkan korban, pelaku kerap meminta dokumen pribadi seperti KTP, NPWP, dan nomor rekening.
Beberapa korban bahkan diminta mentransfer sejumlah uang dengan alasan biaya administrasi atau pelatihan. Setelah dana dikirim, pelaku langsung menghilang tanpa jejak. Pihak kepolisian menegaskan, perusahaan resmi tidak pernah meminta biaya dalam proses rekrutmen.
Selain kerugian finansial, korban juga berisiko mengalami pencurian identitas. Data pribadi yang dikirimkan dapat disalahgunakan untuk membuka rekening bank, mengajukan pinjaman online, hingga melakukan tindak kriminal digital lainnya. Beberapa korban dilaporkan mengalami tekanan psikologis akibat rasa kecewa dan kehilangan kepercayaan diri setelah menyadari telah ditipu.
Belakangan, modus baru penipuan “bantu urus cuti” tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Seorang wanita nyaris menjadi korban setelah menerima pesan dari seseorang yang mengaku bekerja di perusahaan tambang luar kota. Pelaku membangun kedekatan emosional lewat percakapan, lalu mengaku kesulitan mengajukan cuti karena kebijakan perusahaan yang mewajibkan anggota keluarga untuk mengurus izin tersebut.
Tak lama kemudian, korban dihubungi seseorang yang mengaku staf HRD dan diminta mengirimkan dokumen pribadi seperti KTP, rekening bank, serta NPWP sebagai “syarat administrasi.” Untungnya, korban merasa curiga dan menolak memberikan data tersebut. Jika tidak, datanya berpotensi digunakan untuk transaksi ilegal atau pengajuan pinjaman online tanpa sepengetahuan korban.
Pola penipuan semacam ini memiliki ciri khas serupa. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain tawaran gaji terlalu tinggi, proses rekrutmen terburu-buru tanpa prosedur resmi, permintaan biaya administrasi, penggunaan nomor WhatsApp pribadi, dan komunikasi tanpa surat elektronik resmi perusahaan.
Pakar keamanan digital mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi di dunia maya. Langkah pencegahan yang disarankan antara lain memverifikasi nomor dan nama perusahaan melalui situs resmi, tidak mengirim uang atau data pribadi kepada pihak yang belum terverifikasi, serta melaporkan akun mencurigakan melalui fitur pengaduan aplikasi atau ke pihak berwenang.
“Waspadai siapa pun yang tiba-tiba menghubungi dan meminta data pribadi. Penipu kini memanfaatkan kepercayaan dan kelengahan pengguna media sosial,” ujar seorang praktisi keamanan siber.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa modus penipuan digital terus berevolusi. Dari tawaran kerja hingga permintaan pribadi, semua dirancang untuk memancing kepercayaan korban. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, tidak mudah percaya pada pesan yang mengatasnamakan individu atau perusahaan, dan selalu memastikan keaslian informasi sebelum mengambil tindakan. (dwi/fir)
Editor : M Firman Syah