Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Fenomena Mendang-Mending Tekan Penjualan LCGC, Konsumen Semakin Rasional dalam Membeli Mobil

Muhammad Firman Syah • Selasa, 14 Oktober 2025 | 21:21 WIB
Mobil agya salah satu mobil LCGC.
Mobil agya salah satu mobil LCGC.

Surabaya – Fenomena perilaku konsumen “mendang-mending” mulai memberikan dampak nyata terhadap dinamika pasar otomotif Indonesia, khususnya pada segmen mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC). Istilah ini menggambarkan kebiasaan konsumen yang cermat dalam membandingkan harga, fitur, dan efisiensi kendaraan sebelum melakukan pembelian.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan LCGC sepanjang Januari hingga Agustus 2025 mengalami penurunan signifikan sebesar 32,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), dari 120.266 unit menjadi sekitar 81.256 unit. Penurunan paling tajam tercatat pada Maret 2025, yakni sebesar 38 persen YoY dari 20.691 unit menjadi hanya 12.726 unit.

Sementara itu, tren berbanding terbalik terlihat pada penjualan mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV), yang melonjak menjadi 42.178 unit hanya dalam tujuh bulan pertama tahun ini. Angka tersebut hampir menyamai total penjualan BEV sepanjang tahun 2024.

Mengacu pada riset Bank Mandiri yang merangkum data Gaikindo, penurunan pada segmen LCGC dipengaruhi oleh dua faktor utama: melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah dan perubahan perilaku konsumen yang semakin kritis serta selektif dalam menilai efisiensi dan nilai guna kendaraan.

Istilah "mendang-mending", yang berasal dari kata "mending" dalam bahasa Jawa dan berarti "lebih baik", kini menjadi gambaran konkret atas kecermatan konsumen dalam mengambil keputusan pembelian.

Marketing Director PT Toyota Astra Motor, Anton Jimmi Suwandy, mengonfirmasi adanya perubahan pola perilaku konsumen, khususnya di kanal digital.

“Konsumen sekarang mencari tahu dulu speknya, harga, komparasi, bahkan lihat review di YouTube sebelum memutuskan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Marketing Director Astrido Group, Tony H. Saputra, menilai bahwa sensitivitas konsumen kini tidak hanya terhadap harga, tetapi juga pelayanan dan pengalaman pelanggan secara menyeluruh.

“Poin penting adalah bagaimana kita tetap engage dengan customer. Sekarang sudah mulai dijalankan tapi nantinya kami akan makin fokus di kanal digital,” katanya.

Kecenderungan tersebut memaksa para produsen otomotif untuk menyesuaikan strategi pemasaran dan penjualan. Pendekatan berbasis nilai (value for money), efisiensi jangka panjang, serta optimalisasi kanal digital menjadi kunci. Di sisi lain, insentif kendaraan listrik dari pemerintah turut dimanfaatkan produsen untuk menarik minat pasar yang kian selektif.

Fenomena “mendang-mending” kini bukan sekadar istilah populer di media sosial, melainkan representasi nyata dari transformasi perilaku konsumen yang lebih selektif, rasional, dan berhati-hati sebelum bertransaksi. Dampaknya terasa jelas pada penurunan penjualan segmen LCGC, sementara kendaraan listrik dan mobil pada segmen menengah ke atas justru mengalami pertumbuhan yang signifikan. (sry/mel/fir)

Editor : M Firman Syah
#penurunan #lcgc #pasar otomotif indonesia #gaikindo