Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Darknet Marak Jual Data Pribadi, Pakar Desak Pemerintah Perkuat Sistem Digital

Muhammad Firman Syah • Minggu, 28 September 2025 | 17:37 WIB

 

Pusat Data Nasional lumpuh akibat ransomware, ratusan layanan publik di Indonesia terdampak.
Pusat Data Nasional lumpuh akibat ransomware, ratusan layanan publik di Indonesia terdampak.

Jakarta – Serangan ransomware yang melumpuhkan Pusat Data Nasional (PDN) kembali mengguncang kepercayaan publik terhadap sistem keamanan siber di Indonesia. Gangguan tersebut menghentikan sekitar 239 layanan publik, mulai dari keimigrasian, pendidikan, hingga administrasi kependudukan. Ribuan warga terdampak, mulai dari antrean panjang di bandara, paspor yang gagal diproses, hingga pencairan bantuan pendidikan mahasiswa yang tertunda.

Dampaknya tidak hanya pada aspek teknis. Banyak masyarakat harus menunda perjalanan luar negeri karena paspor tidak dapat diterbitkan. Orang tua mahasiswa pun mengeluhkan sistem verifikasi bantuan pendidikan yang tak bisa diakses.

“Serangan ransomware ini menjadi bukti nyata bahwa keamanan siber bukan lagi isu sekunder. Ini menyangkut pelayanan langsung kepada masyarakat,” ujar seorang pakar keamanan digital, menilai insiden tersebut sebagai peringatan keras bagi pemerintah.

Berdasarkan data National Cyber Security Index (NCSI), Indonesia masih berada di peringkat 49 dunia dalam ketahanan siber. Posisi ini menunjukkan lemahnya fondasi keamanan digital, khususnya dalam melindungi data publik yang bersifat vital.

Kejadian ini menambah daftar panjang insiden serupa, setelah sebelumnya publik dikejutkan dengan kebocoran data nasabah bank, peserta jaminan sosial, hingga daftar pemilih pemilu. Pola berulang tersebut menandakan sistem perlindungan data nasional masih rawan ditembus.

Maraknya penjualan data pribadi di darknet semakin memperburuk keresahan masyarakat. Banyak yang merasa menjadi korban ganda, kehilangan privasi sekaligus terhambat mengakses layanan dasar.

Para pakar menilai pemerintah perlu memperkuat infrastruktur digital serta membangun sistem respons cepat untuk setiap insiden peretasan. Tanpa langkah strategis, Indonesia akan terus menjadi target empuk kelompok peretas dari dalam maupun luar negeri.

Dalam lima tahun terakhir, tren serangan siber di Indonesia terus meningkat baik dari sisi frekuensi maupun skala. Ransomware dan pencurian data pribadi menjadi metode yang paling dominan, diperburuk oleh rendahnya kesadaran keamanan digital di tingkat instansi maupun individu.

“Tanpa perlindungan data yang kuat, digitalisasi justru bisa menjadi bumerang,” tegas seorang pakar, mengingatkan pentingnya menempatkan keamanan siber sebagai prioritas utama dalam agenda transformasi digital. (dwi/fir)

Editor : M Firman Syah
#data pribadi #Digital #NCSI #pemerintah #Darknet