Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pasar Mobil Listrik Naik, Pabrikan Mobil Bensin Juga Makin Optimis

Muhammad Firman Syah • Selasa, 26 Agustus 2025 | 22:25 WIB
Penjualan mobil listrik melonjak, pangsa pasar mobil bensin terdesak. Didukung insentif pemerintah untuk kendaraan ramah lingkungan.
Penjualan mobil listrik melonjak, pangsa pasar mobil bensin terdesak. Didukung insentif pemerintah untuk kendaraan ramah lingkungan.

Radar Surabaya – Penjualan kendaraan listrik, termasuk mobil listrik murni dan hybrid, menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kendati demikian, pasar kendaraan bensin juga tak kalah optimis.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Mahardi Tunggul Wicaksono, menjelaskan bahwa pangsa pasar kendaraan hybrid meningkat dari 0,28 persen pada 2021 menjadi 7,62 persen hingga Juli 2025. Sedangkan kendaraan listrik tumbuh dari 0,08 persen menjadi 9,7 persen dalam periode yang sama.

“Sebaliknya, kendaraan berbasis internal combustion engine (ICE) mengalami penurunan pangsa pasar dari 99,64 persen pada 2021 menjadi 82,2 persen pada Januari hingga Juli 2025. Hal ini mencerminkan adanya pergeseran preferensi konsumen menuju kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional turut mendorong peningkatan jumlah kendaraan listrik di Indonesia. Sepanjang 2024, total populasi kendaraan listrik mencapai 207.000 unit, melonjak 78 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 116.000 unit.

Saat ini, kendaraan listrik impor mendominasi pasar domestik. Per Mei 2025, kendaraan listrik rakitan luar negeri menyumbang hingga 64 persen dari total pasar nasional. Menurutnya, peningkatan tajam dalam penjualan kendaraan listrik salah satunya didorong oleh insentif pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Menteri Investasi Nomor 6 Tahun 2023 jo. Nomor 1 Tahun 2024. Regulasi tersebut mulai diberlakukan sejak Februari 2025, dengan batas waktu permohonan insentif hingga 31 Maret 2025 dan berlaku hingga 31 Desember 2025.

Menanggapi hal itu, Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM, Yusak Billy mengakui bahwa kehadiran mobil listrik dengan harga sangat miring memang menarik. Namun, ia menegaskan bahwa target pasarnya berbeda.

"Ya, itu menarik ya (mobil listrik murah). Tapi itu menarik bagi orang yang memang mencari mobil listrik murah. Tapi belum tentu untuk segmen orang yang first time buyer," kata Billy di arena GIIAS 2025 seperti yang dikutip media di Jakarta.

Menurutnya Billy, ada dua dunia yang berbeda. Ada segmen pembeli yang memang sudah mengincar mobil listrik dan mencari harga termurah. Namun, ada segmen yang jauh lebih besar para pembeli mobil pertama yang baru beralih dari sepeda motor.

Menurut Billy, prioritas utama seorang pembeli mobil pertama adalah peace of mind atau ketenangan pikiran. "First time buyer itu biasanya ingin mencari peace of mind ya. Jadi ketenangan. Konsumen biasanya beli, dia pakai, dia rawat, sampai dijual kembali itu mudah semuanya," imbuhnya.

Ketenangan ini terwujud dalam tiga pilar utama yang telah dibangun oleh merek-merek seperti Honda selama puluhan tahun. Diantaranya, jaringan Servis Luas, kemudahan menemukan bengkel resmi di seluruh pelosok negeri dan suku Cadang Terjangkau.

Baca Juga: Lebih Baik Beli Ketimbang Sewa, Usulan DPRD Surabaya Terkait Rencana Mobil Listrik untuk Operasional Pemkot

Nah, adanya jaminan ketersediaan suku cadang yang mudah didapat dan tidak mencekik kantong inilah yang membuat harga jual kembali mobil bensin masih tinggi. Konsumen merasa aman karena tahu nilai investasi mereka tidak akan anjlok drastis saat mobil dijual kembali.

"Itu mungkin terpengaruh untuk yang di Jakarta. Tapi di daerah tetap optimistis, enggak bakal mengganggu pasar LCGC. Sekali lagi, first time buyer seperti konsumen Brio itu lebih banyak pertimbangannya," tandasnya.

Pada akhirnya, Honda melihat bahwa pasar otomotif Indonesia kini menjadi semakin kaya pilihan. Serbuan mobil listrik murah adalah sebuah fenomena positif yang memberikan opsi baru. Namun, bagi jutaan keluarga Indonesia yang baru memulai mimpi memiliki mobil, ketenangan pikiran yang ditawarkan oleh sebuah LCGC dari merek terpercaya masih menjadi pilihan yang paling logis dan menenangkanhati.

Sementara itu, berdasarkan kebijakan impor kendaraan listrik completely built up (CBU) dalam rangka uji pasar dengan komitmen investasi, diberikan insentif berupa pembebasan bea masuk 0 persen dari tarif normal 50 persen serta pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) sebesar 0 persen dari tarif semula 15 persen. Dengan skema tersebut, total pajak yang dibebankan hanya sebesar 12 persen, turun drastis dari sebelumnya 77 persen, sehingga konsumen menikmati diskon pajak hingga 65 persen. (akr/mel/fir)

Editor : M Firman Syah
#mobil listrik #cbu #kendaraan hybrid #ppnbm #ice #kendaraan listrik #impor