Radar Surabaya – YouTube mengumumkan langkah baru dalam upaya meningkatkan keamanan anak di platformnya dengan menguji teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memverifikasi usia pengguna. Langkah ini dirancang agar pengguna di bawah umur tidak terpapar konten berbahaya, termasuk video yang mengandung unsur kekerasan dan seksual.
Berbeda dari metode konvensional yang mengandalkan tanggal lahir saat pembuatan akun Google, sistem berbasis AI ini akan menganalisis aktivitas pengguna di platform untuk memperkirakan apakah mereka tergolong dewasa atau anak di bawah umur.
“Dalam beberapa minggu ke depan, kami mulai meluncurkan machine learning ke sejumlah kecil pengguna di AS untuk memperkirakan usia mereka, sehingga remaja diperlakukan sebagai remaja dan orang dewasa sebagai orang dewasa,” ujar James Beser, Director of Product Management YouTube, dalam keterangan resminya.
Saat ini, teknologi tersebut masih dalam tahap uji coba di Amerika Serikat dan direncanakan akan diluncurkan secara global dalam beberapa bulan mendatang. Jika sistem AI mengidentifikasi pengguna sebagai anak di bawah umur, YouTube akan secara otomatis mengaktifkan sistem keamanan remaja yang telah tersedia. Fitur tersebut mencakup pembatasan akses terhadap konten sensitif dan pengaturan privasi saat pengguna muda mengunggah video atau meninggalkan komentar.
YouTube menegaskan bahwa pengguna dewasa yang keliru teridentifikasi sebagai anak di bawah umur dapat mengajukan banding dengan mengunggah dokumen identitas seperti KTP, kartu kredit, atau swafoto untuk memverifikasi usia mereka.
Kendati langkah ini diapresiasi sebagai bagian dari perlindungan anak di internet, sejumlah pengguna mengungkapkan kekhawatiran terhadap potensi dampaknya terhadap privasi dan pengalaman pengguna di platform. Selain itu, para kreator konten juga diperkirakan akan merasakan dampaknya, terutama dari sisi pendapatan iklan. Sebab, pengguna di bawah umur tidak akan menerima iklan yang dipersonalisasi, yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan melalui Adsense.
Teknologi ini pertama kali diumumkan oleh Google awal tahun 2025 sebagai bagian dari strategi global untuk meningkatkan keamanan digital anak. Beberapa negara bahkan telah lebih dulu menerapkan kebijakan verifikasi usia sebagai upaya membatasi akses anak terhadap konten tidak layak. (akr/mel/fir)
Editor : M Firman Syah