RADAR SURABAYA – Ditinggal pasar Barat, raksasa teknologi Tiongkok seperti Tencent, Alibaba, dan ByteDance kini berbondong-bondong masuk ke Asia Tenggara.
Bukan main-main, miliaran dolar langsung digelontorkan untuk membangun pusat data, mengembangkan kecerdasan buatan (AI), dan menguasai pasar digital kawasan ini.
Di Bandara Jewel Changi, Singapura, pengunjung kini bisa disapa pramutamu digital berbasis Tencent Cloud yang memberikan arahan, rekomendasi kuliner, hingga tips belanja real time dalam lima bahasa.
Teknologi yang dulu cuma ada di film fiksi ilmiah, kini hadir di tengah-tengah masyarakat Asia Tenggara.
Serbuan Miliaran Dolar: Dari TikTok hingga Alibaba Cloud
Bukan sekadar “tes pasar”, perusahaan teknologi Tiongkok langsung menggelontorkan dana jumbo:
-TikTok (ByteDance) siap investasikan US$8,8 miliar (Rp143 triliun) dalam lima tahun untuk pusat data dan infrastruktur digital di Thailand.
-Alibaba Cloud buka pusat data ketiga di Malaysia, ekspansi ke Filipina, dan siapkan dana 380 miliar yuan (Rp861 triliun) untuk AI dan komputasi awan.
-SenseTime gandeng pemerintah Indonesia kembangkan AI lokal, smart city, dan talenta teknologi.
Bahkan, pemerintah Tiongkok mendukung penuh. Belanja modal AI nasional tahun ini diprediksi tembus US$98 miliar (Rp1.592 triliun), naik hampir 50% dari tahun lalu.
Jejaring Teknologi Tiongkok Menggulung Asia Tenggara
Perubahan mulai terasa di berbagai negara:
Indonesia: GoTo migrasi ke Alibaba Cloud, Telkomsel pakai verifikasi telapak tangan AI Tencent.
Filipina: ABS-CBN arsipkan konten lewat Alibaba Cloud.
Thailand: Alibaba bantu digitalisasi UMKM bersama TrueBusiness.
Malaysia: Tencent hadir lewat layanan identitas digital untuk registrasi seluler.
"Kami membantu perusahaan Asia Tenggara mengadopsi strategi multi-cloud sesuai regulasi dan kebutuhan bisnis," kata Bluefin Zhao, Wakil Presiden Tencent Cloud.
Asia Tenggara Jadi “Markas Baru” Teknologi Tiongkok?
Para pakar yakin ini bukan sekadar pelarian dari Barat. Asia Tenggara dinilai punya tiga kekuatan yang tak dimiliki pasar lain:
1. Ledakan permintaan digital – AI diproyeksikan menyumbang US$120 miliar (Rp1.950 triliun) ke PDB kawasan pada 2027.
2. Infrastruktur yang siap melesat – Komputasi awan diprediksi tembus US$512 miliar (Rp8.329 triliun) pada 2033.
3. Kedekatan geografis & budaya – Memudahkan operasi dan perekrutan talenta.
Ray Wang dari The Futurum Group menyebut strategi ini “pondasi pertumbuhan global” bagi perusahaan teknologi Tiongkok.
Bukan Sekadar Pelarian, tapi Invasi Pasar
Dengan sokongan dana raksasa dan teknologi mutakhir, perusahaan Tiongkok sedang menjadikan Asia Tenggara sebagai lumbung pertumbuhan baru.
Jika tren ini berlanjut, kawasan ini berpotensi menjadi pusat teknologi global dalam waktu kurang dari satu dekade.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan