Radar Surabaya – Motor sport fairing 150cc yang pernah menjadi simbol prestise di kalangan anak muda Indonesia kini mengalami penurunan popularitas yang signifikan. Dominasi motor ini secara perlahan tergeser oleh motor matik, yang kembali menjadi pilihan utama konsumen karena kepraktisannya.
Model-model seperti Yamaha R15, Honda CBR 150, dan Suzuki GSX R150 sempat merajai pasar sebagai alternatif terjangkau dari motor balap bermesin besar. Puncak kejayaan segmen ini terjadi pada 2022, saat motor sport 150cc menyumbang 5,8 persen dari total penjualan sepeda motor domestik. Namun dalam beberapa tahun terakhir, minat konsumen terhadap segmen ini terus merosot.
Salah satu faktor utama yang memicu penurunan ini adalah kenaikan harga jual. Konsumen mulai mempertimbangkan ulang keputusan membeli motor sport 150cc karena perbandingan harga dengan motor bekas 250cc yang dinilai lebih worth it dengan performa lebih tinggi namun harga sebanding atau bahkan lebih murah.
Selain itu, dari sisi penggunaan, motor sport fairing dinilai kurang praktis untuk kebutuhan harian. Hal ini membuat banyak pengguna beralih ke motor matik yang lebih ringan, irit bahan bakar, dan mudah dikendarai di berbagai kondisi lalu lintas.
Tren ini juga terlihat di pasar motor bekas. Motor sport 150cc mulai kehilangan daya tariknya, sementara motor matik tetap stabil dan diminati.
"Motor matik enggak pernah sepi, ada aja yang nyari. Kalo motor sport, agak payah kayaknya. Semenjak pandemi, mereka pengguna motor sport 150cc banyak yang diputus kerjanya, dan biasanya pembeli 150cc itu pembelinya dari kelas karyawan. Makanya pasar motor sport 150cc mengalami penurunan lumayan banyak," ungkap Irwan Chaniago, seorang penjual motor bekas.
Fenomena ini menandai pergeseran paradigma konsumen dari aspek prestise ke fungsionalitas. Dulu dianggap sebagai simbol gaya hidup dan kebanggaan, motor sport 150cc kini ditinggalkan karena tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup mayoritas konsumen.
Pergeseran ini juga mencerminkan dinamika pasar otomotif roda dua di Indonesia, di mana faktor efisiensi, kenyamanan, dan biaya pemeliharaan menjadi penentu utama keputusan pembelian. (sry/mel/fir)
Editor : M Firman Syah