Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

BYD Atto 1 Resmi Meluncur, Siap Geser Pasar LCGC di Surabaya

Muhammad Firman Syah • Kamis, 7 Agustus 2025 | 21:04 WIB
Mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) dengan harga terjangkau kini mulai membidik segmen pembeli mobil pertama.
Mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) dengan harga terjangkau kini mulai membidik segmen pembeli mobil pertama.

Jakarta - Mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) dengan harga terjangkau kini mulai membidik segmen pembeli mobil pertama. Perubahan ini terjadi seiring munculnya model-model EV baru yang berada di kisaran harga mobil hemat energi dan harga terjangkau (low cost green car/LCGC).

Salah satunya adalah BYD Atto 1, city car terbaru lansiran produsen otomotif asal Tiongkok, BYD Indonesia. Model ini resmi diluncurkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, dengan harga mulai dari Rp195 juta untuk varian Dynamic dan Rp 235 juta untuk tipe Premium on the road (OTR) Jakarta.

Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao menyebut bahwa daya saing Atto 1 bukan hanya pada harga beli, tetapi juga pada efisiensi biaya kepemilikan.

"Oleh karena itu, saya percaya semakin banyak orang yang akan memilih BYD Atto 1 sebagai mobil pertama mereka," ujarnya dalam keterangan di GIIAS 2025, Rabu (6/8).

Eagle mengungkapkan, pihaknya telah melakukan studi pasar yang komprehensif selama dua tahun terakhir sebelum meluncurkan Atto 1. Ia menekankan bahwa Indonesia merupakan negara pertama dengan sistem setir kanan yang dipilih untuk peluncuran global Atto 1.

"BYD adalah satu-satunya produsen mobil yang memiliki semua teknologi kunci baterai, motor listrik, hingga semikonduktor. Kami bahkan memproduksi hampir semua komponen inti sendiri, kecuali ban dan kaca," katanya.

Ia juga mengaku terkejut atas respons positif dari konsumen.

"Kami sangat terkejut bahwa harga terjangkau ini dapat diterima oleh semakin banyak pelanggan Indonesia," imbuhnya.

Terkait strategi harga, Eagle menegaskan BYD terus mempertahankan pendekatan solid yang disesuaikan dengan segmentasi konsumen dan kondisi pasar di Indonesia.

"Kami berusaha sebaik mungkin mempertahankan strategi penetapan harga yang sangat solid," ujarnya.

Sementara itu, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) tengah mengkaji ulang kebijakan pembiayaan mobil listrik. Sebelumnya, perusahaan menetapkan mobil listrik hanya dapat dibiayai jika menjadi kendaraan kedua bagi debitur.

"Kalau saat ini memang regulasinya di kami harus minimal mobil kedua. Tapi mungkin dengan munculnya mobil EV segmen murah, regulasinya sedang dikaji ulang," ujar Head of Branch SSD Adira Finance Ahmad Fauzi, Rabu (6/8).

Menurutnya, tren saat ini menunjukkan pergeseran konsumen EV dari kelas menengah atas ke kelompok muda, seperti mahasiswa dan first jobber.

"Dengan harga di bawah Rp 200 juta, segmen pasarnya bergeser. Maka manajemen risiko dan regulasi kami perlu dievaluasi," tambahnya.

Selain BYD Atto 1, sejumlah model EV lain juga masuk ke segmen harga serupa. Wuling Air EV Lite Standard Range dijual mulai Rp 184 jutaan, sementara Long Range Rp 195 jutaan, dan Air EV Pro seharga Rp 252 jutaan. Adapun New Binguo EV Lite dibanderol mulai Rp 279 jutaan dan versi Pro seharga Rp 332 jutaan.

Ahmad Fauzi menyebut, generasi Z dan milenial awal yang baru memasuki dunia kerja menjadi konsumen potensial.

"Kami melihat aturan untuk mobil kedua itu mungkin ke depan akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar," ujarnya.

Pengamat otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menyatakan bahwa pergeseran tren konsumen ke segmen EV semakin nyata. Ia menilai target penjualan 60 ribu unit BEV pada 2025 bisa tercapai jika insentif pemerintah diterapkan secara optimal.

"Harus ada varian BEV dengan harga Rp 150 juta hingga Rp 400 juta untuk menyaingi LCGC bermesin pembakaran dalam (ICE)," ujarnya.

Menurut Yannes, milenial dan generasi Z mulai tertarik pada mobil listrik karena teknologi terbaru dan desain yang ditawarkan.

"Mereka menginginkan produk terbaik dengan harga terbaik, meskipun daya beli mereka belum tinggi," katanya.

Pemerintah turut mendorong aksesibilitas EV lewat sejumlah insentif. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025, pemerintah memberikan PPN DTP sebesar 10 persan untuk mobil listrik completely knocked down (CKD), serta PPnBM DTP sebesar 15 persen untuk mobil listrik impor utuh (CBU) maupun CKD. Selain itu, bea masuk untuk impor CBU juga dibebaskan. (man/ris/fir)

Editor : M Firman Syah
#PT BYD Motor Indonesia #byd atto 1 #GIIAS 2025 #surabaya #resmi meluncur #Pasar LCGC Indonesia