RADAR SURABAYA - Kamis (20/6), Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) diserang oleh kelompok cyber crime yang mengakibatkan banyak layanan digital pemerintahan terpaksa lumpuh.
Peristiwa ini diduga diakibatkan oleh serangan ransomware yang mengunci sebagian besar data pemerintahan.
Sehingga beberapa instansi pemerintahan mengalami kendala dan kesulitan mengembalikan data yang dicuri oleh pelaku cyber crime.
Kemajuan teknologi memang memiliki dampak yang besar, terutama terkait dengan berkembangnya berbagai upaya kejahatan cyber untuk meretas suatu data-data penting.
Imbas dari aksi peretasan ini tentu menimbulkan kecemasan massal di tengah masyarakat.
Semua orang secara bersama-sama menuntut berbagai solusi kepada instansi pemerintah, agar permasalahan ini dapat terselesaikan dengan cepat.
Kasus serangan ransomware ini, secara tidak langsung menjadi pengingat bagi semua orang untuk selalu waspada terhadap keamanan perangkat dan data pribadi masing-masing.
Ransomware merupakan serangan malware yang bekerja dengan cara mengunci data atau file yang terdapat pada sistem komputer dan perangkat.
Korban dari serangan ransomware menjadi kesulitan, bahkan tidak dapat mengakses file atau data yang telah dicuri.
Untuk memulihkan kembali data-data tersebut, korban akan dimintai tebusan dengan nominal tertentu oleh pelaku cyber crime.
Terdapat beberapa tipe dari ransomware yang dapat menyerang perangkat dan data-data korban.
Yaitu ransomware locker sebagai serangan awal yang digunakan sebagai ancaman dan ransomware file encryption yang menjadi serangan akut.
Serangan dari ransomware pada umumnya tidak disadari oleh banyak orang.
Hal ini karena perangkat komputer tidak dapat mendeteksi masuknya virus yang terkunci dari ransomware tersebut, bahkan antivirus pun tidak dapat mendeteksi.
Selain itu, tidak terdapat notifikasi dan history pengunduhan yang muncul di sistem komputer.
Sehingga sangat sulit untuk memulihkan kembali data yang telah diretas.
Namun, terdapat salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan ransomware, yaitu menggunakan deteksi AI yang sifatnya real-time.
Melalui metode ini dapat diketahui eksistensi ransomware dalam suatu perangkat komputer sekaligus solusi pemulihan yang dapat dilakukan.
Sebagai antisipasi secara pribadi, untuk menghindari serangan ransomware dapat dilakukan beberapa upaya, yaitu:
1. Hindari akses situs-situs ilegal
Dengan menghindari intensitas akses situs-situs yang ilegal dapat mengurangi resiko serangan ransomware.
Situs-situs ini umumnya tersebar di internet sehingga semua orang dapat mengaksesnya.
Dengan menekan link tertentu yang ada pada halaman situs tersebut, maka dapat menjadi perantara bagi pelaku cyber crime untuk mengunci file pribadi dalam perangkat komputer yang kita miliki.
2. Abaikan pesan email palsu yang masuk
Menurut beberapa informasi, ransomware juga tersebar melalui email palsu yang berisi link kurang jelas.
Jika penerima pesan mengakses link tersebut, maka virus akan otomatis terunduh ke dalam komputer melalui browser.
3. Cari cyber security professional untuk menyelesaikan masalah
Apabila perangkat komputer dan file telah terlanjur terkunci oleh ransomware, maka sebaiknya tidak gegabah untuk memberikan tebusan dengan nominal yang diminta.
Hal ini karena tidak terdapat jaminan pengembalian file-file yang kita miliki setelah memberikan tebusan.
Sehingga permintaan pelaku cyber crime hanya menggunakan alibi untuk mendapatkan keuntungan.
Bahkan dapat terus memeras korbannya dengan nominal kelipatan yang fantastis.
Solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan mempercayakan hal tersebut pada pihak yang kompeten.
Cyber security professional dapat membantu dalam menyelesaikan berbagai permasalahan cyber terkait serangan virus yang beragam efeknya. (sal/mag/opi)
Editor : Nofilawati Anisa