RADAR SURABAYA - Jauh sebelum telepon seluler menjadi bagian dari keseharian, warga Surabaya harus mengandalkan surat untuk berkirim kabar ke daerah lain. Pada awal abad ke-19, surat dari Surabaya menuju Jakarta bisa ditempuh sekitar dua hari melalui jalur darat. Namun, kondisi medan dan cuaca bisa membuatnya molor hingga hampir sepekan.
Pemerhati sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, kondisi tersebut tidak terlepas dari posisi Surabaya yang berkembang sebagai pusat perdagangan di Jawa bagian timur setelah VOC dibubarkan pada 1799.
Baca Juga: Berawal dari Hobi Merajut, EKKYTA Kembangkan Produk Handmade Bersama linkumkm by BRI
Kebutuhan memperlancar arus barang kemudian mendorong pembangunan jalur darat. Pada 1808, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels membuka De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos yang membentang di Pulau Jawa.
Jalur itu turut mempercepat pengiriman surat antarkota. Namun, ketergantungan pada perjalanan fisik membuat penyampaian kabar tetap rentan terhadap kondisi jalan dan cuaca.
“Melalui jalan raya pos tersebut surat menyurat antara Surabaya dengan Jakarta bisa dipersingkat menjadi dua hari. Itu pun jika terjadi kendala maka surat yang dikirimkan bisa memakan waktu hampir seminggu karena medannya masih ekstrem disertai cuaca yang kurang menentu,” ujar Nur.
Terobosan terjadi pada 1884. Setelah Jakarta lebih dahulu meresmikan layanan serupa, Surabaya mulai memiliki kantor Telegraaf en Telefoondienst, yang melayani telegraf dan telepon. Kantor tersebut berada tak jauh dari pusat pemerintahan dan kawasan perdagangan Surabaya yang kala itu berada di kawasan utara, di sisi barat Jembatan Merah.
Baca Juga: Pecah Kaca di Ruko Jalan Mayjen Yono Soewoyo Surabaya, Tas Berisi Laptop Raib
Menurut Nur, penempatan itu berkaitan erat dengan aktivitas pemerintahan dan perdagangan yang membutuhkan akses layanan tersebut.
“Pusat pemerintahan Surabaya masih berada di utara, di sisi barat Jembatan Merah. Kantor pelayanan telegraf dan telepon ini memang diletakkan tak jauh dari pusat pemerintahan sekaligus kawasan perdagangan,” jelasnya.
Pada awalnya, layanan tersebut belum dapat diakses masyarakat secara luas karena lebih banyak digunakan untuk kepentingan militer dan pemerintahan. Namun, posisi Surabaya sebagai kota maritim dan pusat perdagangan membuat keberadaan telegraf serta telepon semakin penting.
Seiring perkembangan jaringan, masyarakat umum akhirnya dapat menggunakannya meski tarifnya ketika itu tergolong mahal. (dim)
Editor : Lambertus Hurek