RADAR SURABAYA – Jauh sebelum surat elektronik dan pesan singkat hadir, berkirim kabar dari Surabaya ke kota lain membutuhkan sarana fisik yang sederhana. Salah satunya melalui brievenbus atau kotak surat. Di Surabaya, keberadaan kotak surat peninggalan zaman Hindia Belanda itu sudah tercatat sejak 1905.
Salah satu yang masih dapat dilihat hingga sekarang berada di halaman Kantor Pos Besar Surabaya di Jalan Kebonrojo. Usianya sudah lebih dari satu abad. Bentuknya berbeda jauh dengan kotak surat yang dikenal masyarakat pada masa setelah kemerdekaan.
Baca Juga: 14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI, Dewi Bantu Warga Lampung Selatan Lepas dari Jerat Rentenir
Brievenbus kolonial dibuat dari besi cor. Bentuknya kokoh dan berukuran cukup besar. Kotak surat semacam ini tidak sekadar menjadi tempat memasukkan surat, tetapi juga bagian dari sistem pelayanan pos yang terus dikembangkan pemerintah kolonial.
Dari kantor pos utama, keberadaan kotak surat kemudian diperluas ke kantor-kantor pos lainnya. Penempatannya juga menyasar kawasan yang dianggap strategis dan mudah dijangkau masyarakat. Dengan begitu, warga tidak harus selalu datang ke kantor pos untuk mengirim surat.
Model kotak surat zaman Belanda itu kemudian berubah setelah Indonesia merdeka. Kotak surat yang digunakan pada masa berikutnya cenderung lebih kecil, sederhana, dan praktis. Perubahan bentuk tersebut mengikuti perkembangan layanan pos dan kebutuhan masyarakat yang semakin luas.
Kantor Pos Besar Surabaya sendiri memiliki perjalanan panjang. Pada 1876, kantor pos kota menempati gedung Willemsplein, yang sebelumnya merupakan kantor residen. Setelah itu layanan pos berpindah ke kawasan Kebonrojo.
Baca Juga: Bekal Pengalaman dan Prestasi Nasional, MAN Surabaya Bertekad Raih Juara Turnamen Bahlil Mini Soccer
Gedung Kebonrojo sebelumnya merupakan rumah kediaman sekaligus Kantor Kabupaten Surabaya. Bangunan tersebut kemudian pernah digunakan sebagai Hoogere Burger School (HBS), sekolah untuk anak-anak Eropa dan putra tokoh pribumi terkemuka. Bung Karno termasuk pernah bersekolah di sana.
Pada 1926–1928 gedung direnovasi tanpa mengubah bentuk awalnya. Setelah selesai, bangunan itu difungsikan sebagai Kantor Pos Utama Surabaya. Kini, gedung tersebut dikenal sebagai Kantor Pos Besar Surabaya atau Kantor Pos Kebonrojo. Sejak 1996, bangunan itu ditetapkan sebagai cagar budaya. (sam)
Editor : Lambertus Hurek