RADAR SURABAYA - Perkembangan transportasi di Surabaya menyimpan cerita panjang tentang perubahan pola mobilitas dan distribusi barang. Memasuki paruh abad ke-19, transportasi air yang sebelumnya menjadi salah satu andalan perlahan mulai tergeser oleh transportasi darat.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan yang akrab disapa Wawan, mengatakan perubahan tersebut terjadi seiring pemerintah kolonial mulai menerapkan transportasi darat sebagai sarana pengangkutan yang dinilai lebih memadai dan murah.
Baca Juga: Sekuriti Sembilan Kali Jambret Kalung di Surabaya, Ini Sasarannya
Salah satu tonggak pentingnya adalah pembangunan Stasiun Wonokromo pada 1878. Stasiun tersebut berada di kawasan selatan Surabaya, di antara Wonokromo dan Kali Jagir.
“Kereta api menjadi jalan pintas bagi transportasi darat modern kala itu,” ujar Wawan.
Keberadaan Stasiun Wonokromo membuat jaringan kereta api dari Surabaya semakin berkembang. Kereta api mampu menjangkau sejumlah kota besar di Pulau Jawa, terutama wilayah Jawa Timur.
Tidak hanya mengangkut penumpang, kereta api juga menjadi sarana distribusi berbagai produk pertanian dan logistik. Peran tersebut membuat pengiriman barang menjadi lebih efektif.
Menurut Wawan, melalui Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api pada masa Hindia Belanda, pemerintah kolonial dapat memangkas biaya transportasi. Terutama dalam proses distribusi atau hilirisasi berbagai komoditas dari wilayah produksi menuju pusat perdagangan.
“Beberapa produk pertanian maupun logistik hingga penumpang dapat diatasi dengan baik,” jelasnya.
Baca Juga: Tujuh Pengendara Ditindak saat Pemeriksaan Barang Bawaan di Jembatan Suramadu sisi Surabaya
Stasiun Wonokromo pada masa awal pembangunannya juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung operasional kereta api. Bangunan stasiun mengusung gaya arsitektur kolonial, lengkap dengan emplasemen dan kantor.
Keberadaan stasiun tersebut kemudian menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan transportasi Surabaya. Usianya yang telah lebih dari satu abad membuat Stasiun Wonokromo tidak sekadar menjadi tempat naik dan turunnya penumpang.
Pemerintah pun menetapkan Stasiun Wonokromo sebagai bangunan cagar budaya. Status tersebut menjadi penanda penting bahwa bangunan ini memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang perlu dijaga. (sam)
Editor : Lambertus Hurek