RADAR SURABAYA – Jauh sebelum kawasan Ampel dikenal sebagai salah satu pusat religi Islam di Surabaya, kawasan tersebut menyimpan cerita panjang tentang perjumpaan agama, kekuasaan, perdagangan, dan dakwah. Salah satu kisah yang menarik adalah tentang bagaimana Raden Rahmat atau Sunan Ampel memperoleh tempat untuk bermukim dan mengembangkan aktivitasnya di kawasan Ampel Denta.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, mengatakan sejumlah catatan Babad Ampel Denta dan naskah kuno menyebut keberadaan Sunan Ampel di Jawa berkaitan erat dengan lingkungan kekuasaan Majapahit pada abad ke-15.
Nur menjelaskan, Sunan Ampel yang memiliki nama Sayid Ali Rahmatullah bin Ibrahim datang ke Nusantara bersama rombongan kerabatnya dari Campa. Wilayah asal tersebut oleh sejumlah sumber dikaitkan dengan kawasan yang kini berada di sekitar Kamboja dan Vietnam.
Baca Juga: Gempa M 7,7 Flores: Waspada Gempa Susulan hingga Dua Minggu ke Depan
“Yang pernah saya baca dari catatan Babad Ampel Denta dan berbagai naskah kuno lainnya, Sayid Ali Rahmatullah bin Ibrahim jumeneng ing Ngampel Denta atau orang lebih mengenal dengan julukan Raden Rahmat alias Sunan Ampel masuk ke Nusantara sekitar abad 15 bersama rombongan kerabatnya. Ini adalah masa-masa Majapahit berkuasa,” kata Nur.
Kedatangan Sunan Ampel, lanjut dia, tidak berdiri sendiri. Jejak komunitas Campa sebenarnya telah ada di Nusantara jauh sebelum kedatangannya. Salah satu jejak tersebut dapat ditemukan di Surabaya melalui makam Putri Campa bernama Ruchaya.
Menurut Nur, keberadaan jejak tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kawasan Nusantara dengan Campa telah berlangsung cukup lama, termasuk melalui jalur perdagangan dan mobilitas masyarakat.
Menariknya, Sunan Ampel kemudian dikenal bukan hanya sebagai tokoh agama. Dalam menjalankan dakwahnya, ia disebut membangun hubungan dekat dengan kalangan elite pemerintahan.
“Dalam metode dakwah, Sunan Ampel merupakan seorang guru spiritual yang menjalankan ilmu tarekat bermazhab Hanafi. Beliau selalu dekat dengan elite pemerintahan dan menjalin birokrasi. Ini tandanya beliau tidak hanya sebagai guru agama tetapi juga seorang intelektual dan tokoh politis,” jelasnya.
Baca Juga: Waspadai Munculnya Penyakit Baru Saat El Nino Berkepanjangan
Pola dakwah Sunan Ampel juga terbilang unik. Ia tidak semata-mata turun langsung mengajarkan Islam kepada masyarakat luas. Sebaliknya, ia memilih orang-orang tertentu untuk dididik dan kemudian menjadi mubaligh serta kader ulama.
Dari para murid dan mubaligh itulah ajaran Islam kemudian bersentuhan lebih luas dengan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kawasan Ampel Denta memiliki posisi strategis. Nur menyebut, Sunan Ampel mendapatkan atau dipinjamkan sebuah tempat berupa wilayah perdikan di kawasan Petukangan, yang kemudian dikenal sebagai Ampel Denta.
Namun, ia meluruskan anggapan bahwa tanah tersebut semata-mata merupakan “hibah” dari seorang raja Hindu kepada tokoh Islam.
“Karena mengemban misi dagang, politik serta dakwah, kemudian Sunan Ampel dipinjamkan sebuah tempat atau perdikan di daerah Petukangan, nama klasik Ampel Denta, oleh Raja Sri Kertawijaya, pemimpin Majapahit di abad 15,” terangnya.
Pada masa itu, wajah Ampel Denta sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Kawasan tersebut masih berupa wilayah perairan yang memiliki posisi strategis untuk aktivitas perdagangan melalui jalur laut.
Letaknya yang strategis membuat kawasan tersebut menjadi bagian penting dari lalu lintas perdagangan Nusantara. Berbagai komoditas dari kepulauan Nusantara, termasuk rempah-rempah seperti cengkeh, menjadi bagian dari aktivitas perdagangan yang menghubungkan wilayah ini dengan kawasan lain. (*)
Editor : Lambertus Hurek