RADAR SURABAYA – Biji pepaya biasanya langsung dibuang ketika seseorang menikmati daging buahnya. Padahal, bagian tersebut sebenarnya dapat dikonsumsi dan mengandung sejumlah senyawa yang berpotensi memberikan manfaat bagi tubuh.
Meski demikian, biji pepaya bukan berarti dapat dikonsumsi secara berlebihan tanpa memperhatikan jumlah dan kondisi tubuh. Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya potensi efek tertentu dari kandungan senyawa di dalam biji pepaya, terutama pada penggunaan dalam dosis tinggi.
Biji pepaya diketahui mengandung berbagai senyawa, antara lain polifenol, flavonoid, serat, dan asam lemak tak jenuh. Kandungan tersebut membuat biji pepaya menarik untuk diteliti karena memiliki potensi aktivitas biologis tertentu.
Biji pepaya juga mengandung benzyl isothiocyanate, salah satu senyawa yang menjadi perhatian dalam penelitian. Efek senyawa tersebut dapat berbeda bergantung pada konsentrasi, jumlah yang dikonsumsi, serta kondisi penggunaannya.
Potensi risiko konsumsi biji pepaya pernah terlihat dalam sejumlah penelitian pada hewan. Salah satunya menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji pepaya dalam dosis tinggi dapat memengaruhi parameter kesuburan jantan, termasuk jumlah dan pergerakan sperma.
Namun, temuan tersebut tidak serta-merta berarti mengonsumsi biji pepaya dalam jumlah wajar dapat menyebabkan gangguan kesuburan pada manusia. Penelitian tersebut menggunakan ekstrak dengan dosis tertentu dan dilakukan pada hewan, sehingga hasilnya tidak dapat langsung disamakan dengan konsumsi biji pepaya oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Selain penelitian pada hewan, penelitian di laboratorium juga menemukan bahwa benzyl isothiocyanate dalam konsentrasi tertentu dapat memberikan efek terhadap sel. Meski demikian, hasil penelitian laboratorium tidak secara otomatis menggambarkan dampak yang akan terjadi setelah seseorang mengonsumsi biji pepaya dalam jumlah normal.
Karena itu, informasi mengenai biji pepaya perlu disikapi secara proporsional. Biji pepaya memang dapat dikonsumsi, tetapi belum ada dasar yang cukup untuk menganggapnya sebagai makanan yang bebas risiko dalam jumlah berapa pun.
Jika ingin mengonsumsi biji pepaya, jumlahnya sebaiknya tetap diperhatikan dan tidak berlebihan. Penggunaan ekstrak atau konsumsi dalam dosis tinggi juga sebaiknya tidak dilakukan tanpa pertimbangan yang jelas, terutama karena bukti mengenai keamanan jangka panjang pada manusia masih terbatas.
Bagi masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang menjalani pengobatan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi pilihan sebelum mengonsumsi biji pepaya dalam jumlah besar atau dalam bentuk ekstrak.
Pada akhirnya, biji pepaya memiliki kandungan senyawa yang menarik untuk diteliti, tetapi penelitian mengenai manfaat dan keamanannya pada manusia masih terus berkembang. Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui batas konsumsi yang aman serta dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia. (rin/fir)
Editor : M Firman Syah