Kampung Bendera Darmokali, Tradisi Musiman yang Menghidupkan Semangat Kemerdekaan ‎di Surabaya

Dimas Mahendra • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 13:35 WIB
Suasana meriah di kampung bendera Jalan Darmokali Surabaya setiap bulan Agustus. (DIMAS MAHENDRA/RADAR SURABAYA)
Suasana meriah di kampung bendera Jalan Darmokali Surabaya setiap bulan Agustus. (DIMAS MAHENDRA/RADAR SURABAYA)

 


‎RADAR SURABAYA – Setiap memasuki bulan Agustus, suasana di ujung Jalan Darmokali, Wonokromo, selalu berubah. Deretan bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga berbagai atribut kemerdekaan memenuhi sisi jalan, menjadikan kawasan itu dikenal masyarakat sebagai Kampung Bendera. Di balik ramainya lapak-lapak musiman tersebut, tersimpan kisah panjang perjuangan ekonomi warga setempat.

‎Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa julukan Kampung Bendera sebenarnya tergolong baru. Menurutnya, kawasan itu mulai dikenal luas sebagai sentra penjualan bendera sekitar 15 tahun terakhir.

Baca Juga: Erick Thohir Puji LaNyalla, Sebut Muaythai Indonesia Makin Berkembang Berkat Pembinaan Grassroots

‎"Kalau Kampung Bendera yang berada di kawasan Darmokali itu sebenarnya baru muncul sekitar 15 tahun terakhir. Berbeda dengan pedagang bendera di sisi selatan Jembatan Wonokromo yang memang sudah lebih dulu dikenal masyarakat," ujarnya.

‎Nur menuturkan, sebelum identik dengan penjualan bendera, sebagian besar warga Darmokali merupakan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai kebutuhan harian, mulai masker, sarung tangan, hingga aksesori kendaraan bermotor di sepanjang Jalan Darmo dan Marmoyo.

‎Namun, aktivitas tersebut kerap ditertibkan oleh petugas sehingga para pedagang kemudian memilih berjualan lebih dekat dengan permukiman mereka di kawasan Darmokali.

‎"Dulu warga banyak berjualan di sepanjang Jalan Darmo dan Marmoyo. Karena sering ditertibkan Satpol PP, mereka kemudian berpindah ke Darmokali yang lokasinya memang dekat dengan tempat tinggal mereka," jelasnya.

Baca Juga: Nobar Persebaya di Warung Kopi, Saat Loyalitas Bonek Menghidupkan UMKM Surabaya

‎Seiring berjalannya waktu, warga melihat peluang ekonomi dari penjualan atribut kebangsaan. Sejak itu, setiap menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia maupun Hari Pahlawan pada November, mereka serentak membuka lapak bendera di sepanjang jalan kampung.

‎Fenomena tersebut kemudian menjadi ciri khas tersendiri. Dalam satu ruas jalan, hampir seluruh pedagang menawarkan produk serupa sehingga memudahkan masyarakat mencari berbagai kebutuhan atribut nasional.

‎"Uniknya, satu kampung berjualan bendera secara bersamaan. Jadi masyarakat yang membutuhkan bendera atau atribut kemerdekaan, bahkan pada malam hari sekalipun, tetap bisa mendapatkannya di sana," kata Nur.

‎Kini, Kampung Bendera Darmokali bukan hanya menjadi pusat penjualan atribut Merah Putih, tetapi juga menjadi penanda datangnya bulan kemerdekaan di Surabaya. Tradisi musiman yang tumbuh dari perjuangan ekonomi warga itu perlahan menjelma menjadi ikon tahunan yang selalu menghidupkan semangat nasionalisme di Kota Pahlawan. (dim)

Editor : Lambertus Hurek
UMKM bendera Jalan Marmoyo kampung bendera darmokali