Menelusuri Jejak Kampung Pengampon Surabaya, Diduga Dulu Jadi Pusat Produksi Gerabah

Mus Purmadani • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 10:57 WIB
Kawasan Pengampon pada masa Hindia Belanda. (IST)
Kawasan Pengampon pada masa Hindia Belanda. (IST)

  

RADAR SURABAYA - Kampung Pengampon berada di antara Sungai Kali Mas dan Kali Undaan. Memasuki awal abad ke-20, kawasan Pengampon berkembang cukup pesat. Berbagai toko mulai bermunculan dan aktivitas perdagangan semakin ramai.

Sejarah awal kampung ini masih menyisakan ruang perdebatan. Salah satu hipotesis mengenai asal-usul Pengampon datang dari Godfried Hariowald (GH) von Faber. Penulis, budayawan, sekaligus sejarawan keturunan Jerman-Belanda kelahiran Surabaya pada 1899 itu punya pandangan tersendiri tentang sejarah kawasan tersebut.

Dalam bukunya Er Werd Een Stad Geboren yang diterbitkan pada 1953, Faber menyebut kawasan tersebut berkaitan dengan permukiman yang didirikan Raja Kertanegara, penguasa Kerajaan Singhasari, sekitar 1275 Masehi. Permukiman itu disebut dengan nama Glagah Arum.

Baca Juga: Begini Kronologi Pengendara Motor Terlindas Truk di Perak Timur Surabaya

Glagah Arum kemudian ditafsirkan sebagai kawasan Peneleh yang berada di antara Sungai Kalimas dan Pegirian. Faber juga menyertakan peta Surabaya tahun 1275 yang menunjukkan sejumlah nama wilayah di sekitar Glagah Arum. Di antaranya, Pajagalan, Pengampon-Semut, Bungkaran, dan Kalianyar.

Namun, pengamat sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan memiliki pandangan berbeda. Ia menduga kawasan Pengampon kemungkinan baru berkembang sekitar abad ke-17 pada masa Keraton Surabaya. Menurut dia, kawasan tersebut mungkin sudah ada sebagai wilayah permukiman, tetapi belum menggunakan nama Pengampon.

"Kalau aku sih (sejak) di masa Keraton Surabaya, mungkin abad ke-17. Mungkin, tapi namanya belum dikasih Pengampon. Kawasannya ada, belum dikasih nama," ujarnya.

Nur memiliki alasan tersendiri. Jika keberadaan Pengampon ditarik hingga abad ke-13, kondisi geografis wilayah Surabaya saat itu dinilai memungkinkan kawasan tersebut belum menjadi permukiman. Bahkan, sebagian wilayahnya diduga masih berupa laut atau perairan.

Karena itu, Wawan memilih menggunakan peta-peta lama sebagai salah satu petunjuk untuk menelusuri keberadaan nama Pengampon. Dari penelusurannya, nama Pengampon sudah ditemukan dalam peta lama yang dibuat pada era kolonial.

"Merujuk dari peta lama era kolonial di abad ke-19, awal nama Pengampon sudah ada," katanya.

Baca Juga: Orang Tua Modern Perlu Ubah Pola Asuh Menghadapi Gen Alpha Ubah, Tidak Boleh Kaku dan Keras

Selain sejarah mengenai asal-usul kawasan, Kampung Pengampon juga menyimpan cerita tutur yang berkembang di masyarakat. Berdasarkan folklor atau legenda yang diwariskan secara turun-temurun, nama Pengampon diduga berkaitan dengan kata ampo yang berarti gerabah.

Cerita tersebut melahirkan dugaan bahwa pada masa lalu kawasan Pengampon merupakan salah satu lokasi masyarakat memproduksi gerabah.

Kondisi geografis Pengampon yang berada di dekat Sungai Kali Mas dan Kali Undaan kemungkinan turut mendukung perkembangan aktivitas tersebut. Sungai pada masa lalu bukan sekadar batas wilayah, melainkan menjadi jalur transportasi dan distribusi yang penting bagi masyarakat.

 Para perajin dapat memanfaatkan jalur sungai untuk membawa hasil produksi mereka menuju pasar atau kawasan perdagangan. Keberadaan sungai membuat proses distribusi menjadi lebih mudah dan efisien.

 "Distribusi paling mudah ya memang lewat sungai. Jadi para perajin itu atau pasar biasanya tidak jauh dari sungai," ungkap Nur.

 Dari sini, sungai menjadi bagian penting dalam membentuk kehidupan ekonomi masyarakat Pengampon. Aktivitas produksi gerabah dan perdagangan kemungkinan tumbuh beriringan dengan keberadaan jalur air yang menghubungkan kawasan tersebut dengan wilayah lain di Surabaya.

Baca Juga: Begini Kronologi Pengendara Motor Terlindas Truk di Perak Timur Surabaya

 Memasuki awal abad ke-20, aktivitas pembuatan gerabah di sekitar Pengampon diduga mulai menghilang. Perubahan tersebut seiring dengan perkembangan industri logam yang semakin pesat.

 Peralatan berbahan logam mulai banyak digunakan masyarakat dan secara perlahan menggantikan berbagai fungsi peralatan berbahan gerabah. Perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat akhirnya membuat aktivitas produksi gerabah di Pengampon tidak lagi terlihat seperti sebelumnya.

 Di sisi lain, kawasan Pengampon justru berkembang menjadi wilayah perdagangan. Toko-toko mulai bermunculan dan aktivitas ekonomi semakin ramai. Perkembangan itu menjadi bagian dari perubahan besar Kota Surabaya pada masa kolonial. (mus)

Editor : Lambertus Hurek
kampung pengampon produksi gerabah sungai kalimas kampung tua pegirian