RADAR SURABAYA - Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya bukan sekadar destinasi wisata di pusat Kota Pahlawan. Di balik berdirinya monumen yang berada di tepi Sungai Kalimas, tersimpan sejarah panjang perjuangan TNI Angkatan Laut dalam Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat dari pendudukan Belanda pada era 1960-an.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa Monkasel merupakan kapal selam asli milik TNI AL yang pernah bertugas dalam berbagai operasi militer. Kapal tersebut adalah KRI Pasopati 410, kapal selam buatan Uni Soviet pada 1952.
"Monkasel merupakan kapal selam peninggalan Operasi Trikora. Kapal ini dulunya menjadi bagian dari armada TNI AL pada masa Presiden Soekarno dan ikut terlibat dalam Pertempuran Laut Aru untuk pembebasan Irian Barat yang sekarang menjadi wilayah Papua," ujar Nur Setiawan.
KRI Pasopati 410 merupakan kapal selam tipe SS Whiskey Class yang dibuat di Vladivostok, Uni Soviet. Kapal sepanjang sekitar 76 meter dengan bobot 1.300 ton itu mampu membawa 12 torpedo dan dioperasikan oleh sekitar 63 awak kapal.
Sejak mulai aktif pada 1962, kapal selam tersebut menjalankan berbagai misi strategis, mulai dari menghancurkan pertahanan musuh, melakukan pengintaian, hingga melancarkan serangan secara senyap.
Menurut Wawan, sapaan Nur Setiawan, keberadaan KRI Pasopati 410 yang kini berada di kawasan Jalan Pemuda, tepat di tepi Kalimas, menjadi simbol penting sejarah maritim dan kekuatan pertahanan laut Indonesia. Surabaya sendiri dikenal sebagai salah satu basis utama TNI AL di Tanah Air.
Baca Juga: Bukan Pesugihan, Wanita Asal Surabaya Pilih Edarkan Sabu dan Pil Ekstasi Agar Cepat Punya Rumah
"Pembangunan Monkasel dimulai pada Juli 1995 dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, Basofi Sudirman, bersama Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur, Laksamana Muda TNI Gofar Soewarno", jelas Wawan.
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 27 Juni 1998, Monkasel diresmikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Arief Kushariadi. Monumen ini kemudian dibuka untuk masyarakat pada 15 Juli 1998. (sam)
Editor : Lambertus Hurek