Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Asal Usul Kampung Banyu Urip Surabaya, Pertarungan Pangeran Situbondo Melawan Joko Jumput

Mus Purmadani • Jumat, 17 Juli 2026 | 13:02 WIB
Suasana kampung Banyu Urip, Surabaya. Punya legenda turun temurun. (IST)
Suasana kampung Banyu Urip, Surabaya. Punya legenda turun temurun. (IST)

 

RADAR SURABAYA – Kampung Banyu Urip Surabaya punya legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Nama kampung ini dipercaya berasal dari kisah sebuah sumber air yang mampu menyembuhkan dan menghidupkan kembali seseorang yang terluka parah.

Pemerhati Sejarah Surabaya Nanang Purwono mengatakan, hingga kini belum ditemukan sumber sejarah tertulis yang secara pasti menjelaskan asal-usul nama Banyu Urip. Namun, cerita lisan yang berkembang di masyarakat mengaitkannya dengan keberadaan mata air yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan.

"Ceritanya, ketika seseorang minum air tersebut, orang itu bisa sehat kembali," ujar Nanang.

Baca Juga: 447 Anak di Jawa Timur Dapat Penetapan Perwalian Serentak, Program Perdana di Indonesia

Secara etimologis, kata banyu dalam bahasa Jawa berarti air, sedangkan urip berarti hidup. Makna tersebut kemudian melekat dengan legenda yang berkembang di tengah masyarakat.

Kisah itu berkaitan erat dengan Pangeran Situbondo, putra Adipati Cakraningrat dari Sampang. Berdasarkan cerita yang dikutip dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jawa Timur, Pangeran Situbondo terlibat persaingan dengan Pangeran Jokotruno, putra Adipati Kediri, untuk memperebutkan Raden Ayu Probowati.

Untuk menghindari peperangan, Raden Ayu Probowati mengajukan syarat agar Pangeran Situbondo membuka hutan belantara atau babat alas menjadi kawasan permukiman.

Saat membuka kawasan yang kini dikenal sebagai Banyu Urip, Pangeran Situbondo berhadapan dengan jawara setempat bernama Joko Jumput. Pertarungan sengit pun terjadi hingga akhirnya Pangeran Situbondo kalah dan terluka parah.

Dalam kondisi kritis, sang pangeran menuju Kedung Gempol dan meminum air dari kedung tersebut. Konon, setelah meminum air itu, kondisinya kembali pulih sehingga selamat dari maut.

Dari kisah itulah muncul keyakinan masyarakat mengenai adanya "air kehidupan" yang kemudian menjadi asal-usul nama Banyu Urip.

 Baca Juga: Pola Makan Teratur Bantu Jaga Energi Tubuh dan Kesehatan Mental

Legenda tersebut juga dipercaya memiliki keterkaitan dengan lahirnya sejumlah kampung tua lain di Surabaya, seperti Wonokromo, Wonocolo, Kupang Krajan, hingga Simo Katrungan yang sama-sama berkaitan dengan perjalanan Pangeran Situbondo dalam membuka hutan.

Menurut Nanang, kisah mengenai air penyembuh di Banyu Urip terus hidup melalui tradisi lisan dan pertunjukan rakyat, termasuk ludruk.

"Bisa jadi dulu kisah ini dituturkan dari orang tua, kemudian ditransfer melalui cerita rakyat dan dipentaskan dalam ludruk sehingga tetap dikenal masyarakat," katanya.

Masyarakat setempat juga meyakini lokasi sumber air tersebut pernah berada di selatan Puskesmas Banyu Urip. Dahulu kawasan itu dikenal sebagai sebuah sendang yang dikelilingi tiga pohon trembesi besar dan menjadi tempat warga mandi maupun bermain.

Kini sendang tersebut sudah tidak tampak, namun jejaknya masih dikenang melalui tetenger atau penanda Mbah Gempol yang berada di lingkungan puskesmas. Sementara air dari sumber tersebut dipercaya masih mengalir ke sumur Masjid Al-Amien. (mus)

Editor : Lambertus Hurek
legenda banyu urip pangeran situbondo raden ayu probowati adipati cakraningrat Joko Jumput