RADAR SURABAYA – Jalan Rajawali bukan sekadar ruas jalan di kawasan Kota Lama Surabaya. Di balik bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh, kawasan ini menyimpan kisah panjang perjalanan Kota Pahlawan sejak era kolonial hingga masa perjuangan kemerdekaan.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa Jalan Rajawali dahulu dikenal sebagai Heerenstraat, salah satu jalan tertua di Surabaya yang berada di sisi barat Sungai Kalimas.
"Jalan Rajawali yang berada di sisi barat Kalimas merupakan jalan kuno yang masih bertahan hingga sekarang. Pada masa kolonial, kawasan ini bernama Heerenstraat," ujarnya.
Baca Juga: Menhub Targetkan Perbaikan Penyeberangan Ketapang Tuntas Tahun Ini
Menurut Nur Setiawan, posisi Heerenstraat sangat strategis karena berdampingan langsung dengan Kalimas yang kala itu menjadi urat nadi transportasi dan perdagangan Surabaya. Di kawasan inilah pemerintah kolonial Belanda pertama kali membangun permukiman orang Eropa sekaligus pusat administrasi pemerintahan.
Berbeda dengan kawasan timur Kalimas yang berkembang sebagai pusat perdagangan rakyat seperti Pasar Pabean dan Kembang Jepun, Heerenstraat justru menjadi kawasan bergengsi yang dipenuhi kantor-kantor dagang milik perusahaan besar Hindia Belanda.
Hingga kini, sejumlah bangunan bersejarah masih dapat dijumpai di sepanjang Jalan Rajawali, seperti Gedung Cerutu, Gedung Internatio, hingga bekas kantor De Javasche Bank yang kini menjadi salah satu ikon cagar budaya Kota Surabaya.
"Perkantoran dagang itu saling menopang satu sama lain dan menunjukkan betapa dinamisnya aktivitas ekonomi Surabaya pada masa itu. Karena nilai sejarahnya, bangunan-bangunan tersebut kini ditetapkan sebagai cagar budaya," jelasnya.
Tak hanya menjadi pusat perdagangan, Jalan Rajawali juga pernah menjadi jalur utama transportasi massal pada zamannya. Trem uap dan trem listrik pernah melintasi kawasan ini, menghubungkan wilayah utara hingga selatan Surabaya.
Jejak kejayaan transportasi tersebut bahkan masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Baca Juga: Dua Bulan Mangkrak, Motor di Kampung Seng Surabaya Hilang Dicuri
"Masih ada dua tiang bekas jaringan listrik trem dan kotak sinyal yang tersisa di Jalan Rajawali. Sayangnya, peninggalan bersejarah itu kondisinya kurang mendapatkan perhatian," ungkap Nur Setiawan.
Namun, kisah Jalan Rajawali tidak berhenti pada perdagangan dan transportasi. Kawasan ini juga menjadi salah satu titik paling bersejarah dalam Pertempuran 10 November 1945.
Di kawasan yang dahulu dikenal sebagai Willemsplein, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, pimpinan pasukan Sekutu, tewas dalam insiden yang kemudian memicu pertempuran besar di Surabaya. Saat itu, Jalan Rajawali menjadi medan pertempuran sengit yang menelan banyak korban dari kedua belah pihak.
"Jalan Rajawali menjadi saksi heroisme arek-arek Surabaya saat melawan pasukan Sekutu. Bahkan pada tahun 1970-an sempat dibangun monumen perjuangan di kawasan ini. Sayangnya, monumen tersebut kemudian dibongkar dan kini tidak diketahui keberadaannya," tuturnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek