RADAR SURABAYA - Bagi generasi Surabaya era 1970-an hingga 1980-an, Bioskop Dana bukan sekadar gedung pemutar film. Bioskop di dekat Pasar Keputran itu menjadi bagian dari kenangan masa muda ribuan warga yang menghabiskan sore dan malam bersama keluarga, teman sekolah, maupun pasangan untuk menikmati film layar lebar.
Widy Lacis, warga senior Surabaya, punya kenangan yang sangat pribadi dengan bioskop tersebut. Ia menceritakan bahwa gedung Bioskop Dana dahulu merupakan milik kakeknya.
"Setiap pulang sekolah saya sering diajak ke sana oleh ayah yang bekerja mengecek roll film. Sampai sekarang kenangan itu masih sangat melekat di ingatan," tuturnya.
Baca Juga: Viral, Pengendara Motor Melintas di Rel, KAI Kecam Aksi Berbahaya
Bioskop Dana dikenal sebagai bioskop kelas B yang cukup bergengsi pada zamannya. Lokasinya yang berada di kawasan Pandegiling, dekat Pasar Keputran, membuatnya selalu ramai dikunjungi, terutama pada sore hingga malam hari.
Josef Palma mengingat suasana tersebut dengan jelas. Menurutnya, hampir setiap sore dan malam, antrean penonton memenuhi halaman bioskop.
"Bioskop ini berada di Jalan Pandegiling bagian timur dekat Pasar Keputran. Dulu sangat ramai setiap sore dan malam," ujarnya.
Tidak jauh dari Dana, berdiri pula Bioskop Purnama. Kedua bioskop itu menjadi tujuan utama warga Keputran, Dinoyo, hingga sekitarnya untuk menikmati hiburan akhir pekan.
Nugrah Dwianto yang masa kecilnya tinggal di Jalan Dinoyo mengenang kebiasaan keluarganya setiap akhir pekan. "Kalau akhir pekan kami sekeluarga kadang menonton di Bioskop Purnama atau Dana. Saat itu pusat pertokoan Keputran juga sedang berada pada masa kejayaannya," tuturnya.
Menurut Nugrah, kawasan Keputran-Dinoyo ketika itu merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi dan hiburan di Surabaya. Pertokoannya ramai, pasar hidup, dan keberadaan dua bioskop membuat kawasan tersebut semakin semarak.
Namun perkembangan kota kemudian mengubah semuanya. "Kini semuanya tinggal kenangan. Bioskop Dana dan Purnama sudah tutup. Bangunannya dijadikan gudang sembako Pasar Keputran, sedangkan pusat pertokoannya juga banyak yang sepi dan mangkrak karena kalah bersaing dengan mal dan plaza modern," katanya.
Baca Juga: Wisatawan KBS Tembus Ratusan Ribu, Favorit saat Liburan Sekolah di Surabaya
Ia bahkan membandingkan kawasan Keputran tempo dulu dengan pusat perdagangan Jatinegara di Jakarta yang sama-sama pernah berjaya sebagai sentra perdagangan tradisional.
Sementara itu, Maskan Atmadja menjelaskan posisi Bioskop Dana dalam hirarki bioskop Surabaya pada masa itu. Menurutnya, kualitas Bioskop Dana berada di atas Bioskop Darmo, tetapi masih di bawah bioskop-bioskop besar seperti Ria, Indra, maupun Arjuna.
Karena itu, banyak warga memilih menunggu hingga film-film Barat yang sedang populer turun layar ke Dana agar harga tiket lebih terjangkau. "Saya ingat menonton film-film seperti Madame X dan To Sir, with Love di Bioskop Dana. Kalau uang belum cukup untuk bioskop kelas atas, kami sabar menunggu filmnya diputar di Dana," kenangnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek