Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jejak Naditira Pradesa Bungkul Masih Terlihat, Jadi Saksi Peradaban Awal Surabaya

Mus Purmadani • Selasa, 7 Juli 2026 | 04:59 WIB

Makam Sunan Bungkul di kawasan Taman Bungkul Surabaya. Jejak sejarah penting bagi Kota Surabaya. (IST)

Makam Sunan Bungkul di kawasan Taman Bungkul Surabaya. Jejak sejarah penting bagi Kota Surabaya. (IST)

 

RADAR SURABAYA – Jejak peradaban kuno Naditira Pradesa Bukul (Bungkul) yang tercatat dalam Prasasti Canggu tahun 1358 diyakini belum hilang sepenuhnya. Pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono menyebut kawasan Makam Mbah Bungkul masih menjadi bukti penting keberadaan permukiman tua di tepian Sungai Kalimas yang pernah berkembang pada masa Kerajaan Majapahit.

 Menurut Nanang, Bungkul pada masa lampau merupakan salah satu Naditira Pradesa atau kawasan permukiman di tepi sungai bersama Pagesangan (Gesang) dan Śūrabhaya. Seiring pesatnya pembangunan Kota Surabaya, kawasan tersebut berubah menjadi bagian dari pusat kota dan berkembang menjadi permukiman modern, termasuk kawasan elite Darmo, sehingga sebagian besar jejak sejarahnya tertutup perkembangan zaman.

 Baca Juga: Wagub Emil: Oversupply Jadi Faktor Utama Anjloknya Harga Telur di Jatim

"Untungnya masih ada Makam Mbah Bungkul sebagai bukti jejak kekunoan masa lalu. Di kompleks tersebut juga terdapat makam Tumenggung Jangrana yang menunjukkan pentingnya kawasan ini dalam sejarah Surabaya," ujar Nanang.

 Ia memperkirakan kawasan Naditira Pradesa Bungkul memiliki cakupan sekitar dua kilometer dari titik Makam Mbah Bungkul. Radius tersebut meliputi Jalan Raya Darmo, Wonokromo, Jagir, Gubeng, Diponegoro, sebagian Keputran, hingga kawasan pusat Kota Surabaya.

 Nanang menjelaskan, berdasarkan aliran Sungai Kalimas, Bungkul berada di sisi selatan sungai, sedangkan kawasan Śūrabhaya berkembang di sisi utara. Posisi geografis itu memengaruhi perkembangan kedua wilayah.

Kawasan utara tumbuh lebih pesat sejak abad ke-17 karena menjadi pusat aktivitas permukiman Eropa, Pecinan, Melayu, dan Arab. Sebaliknya, kawasan selatan masih didominasi wilayah agraris dan pedesaan hingga awal abad ke-20.

 Karakter pedesaan tersebut, lanjutnya, dapat dilihat dari sejarah Stasiun Wonokromo yang pada masa awal masih menggunakan konstruksi kayu dan berada di kawasan yang bersifat rural.

Kondisinya berbeda dengan Stasiun Kota maupun Stasiun Gubeng yang berkembang lebih modern karena berada di kawasan perkotaan.

 Baca Juga: 5 Faktor yang Mendorong Adopsi Blockchain oleh Perusahaan Besar

Selain itu, lingkungan Bungkul pada masa lalu dikenal memiliki vegetasi yang lebat dengan berbagai jenis pohon seperti sawo kecik, kemuning, soka, tanjung, tenggulun, juwet, hingga beringin. Kondisi alam tersebut dinilai mendukung kawasan Bungkul sebagai salah satu pusat awal penyebaran Islam di Surabaya.

Nanang berharap keberadaan jejak sejarah di kawasan Bungkul dapat semakin mendapat perhatian masyarakat dan pemerintah.

 Menurutnya, pelestarian situs-situs bersejarah menjadi penting agar generasi mendatang tetap dapat mengenali asal-usul dan perkembangan awal Kota Surabaya sebagai salah satu kota tua di Nusantara. (mus)

Editor : Lambertus Hurek
#pradesa bungkul #naditira pradesa #Prasasti Canggu #stasiun wonokromo #Mbah Bungkul