RADAR SURABAYA – Jauh sebelum fotografi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, Kota Surabaya telah memiliki studio foto profesional pertama yang menjadi saksi perkembangan Kota Pahlawan pada era Hindia Belanda. Studio bernama Atelier Kurkdjian itu didirikan sekitar tahun 1885 oleh fotografer keturunan Armenia, Ohannes Kurkdjian, di kawasan Gemblongan.
Dari studio inilah lahir ribuan dokumentasi visual yang kini menjadi arsip sejarah penting, mulai dari wajah Kota Surabaya, aktivitas masyarakat, hingga berbagai lanskap di Jawa Timur yang masih dapat dinikmati hingga sekarang.
Baca Juga: Begini Modus Cleaning Service Curi Perhiasan Senilai Puluhan Juta di Pasar Atom Surabaya
Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, mengatakan Ohannes Kurkdjian merupakan salah satu fotografer paling berpengaruh di Hindia Belanda. Sebelum menetap di Surabaya, ia lebih dahulu berkeliling berbagai wilayah di Jawa Timur untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat dan kondisi alam.
"Sekitar tahun 1885 dia datang ke Surabaya dan mendirikan studio foto bernama Atelier Kurkdjian di kawasan Gemblongan. Ini studio foto pertama di Surabaya sekitar thn 1880an milik Ohannes Kurkdjian," ujar Nur.
Kurkdjian tidak hanya mengabadikan bangunan-bangunan penting, tetapi juga merekam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa yang kini menjadi referensi sejarah bernilai tinggi.
Berbagai objek pernah diabadikan melalui kameranya, mulai dari pedagang tradisional, moda transportasi masa kolonial, potret perempuan Jawa, seni dan budaya lokal, hingga berbagai panorama alam di Jawa Timur.
Salah satu dokumentasi yang paling dikenal adalah foto erupsi Gunung Semeru. Selain itu, Kurkdjian juga menghasilkan dokumentasi sejumlah situs bersejarah, termasuk Candi Borobudur, yang kini menjadi koleksi berbagai lembaga arsip nasional maupun institusi dokumentasi di Eropa.
Baca Juga: Antrean Hampir 8 Ribu Rumah, Program Dandan Omah Surabaya Tahun Ini Ditarget Rampungkan 3.792 Rutilahu
Nur menjelaskan, berbeda dengan fotografer keliling pada masa itu, Atelier Kurkdjian berkembang sebagai studio fotografi komersial yang melayani berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari foto potret hingga dokumentasi resmi.
"Studio milik Ohannes lebih banyak mengerjakan foto-foto komersial. Namun di sisi lain, hasil karyanya justru menjadi dokumentasi sejarah yang sangat berharga sampai sekarang," katanya.
Ohannes Kurkdjian sendiri lahir di Erzerum, Turki, dari keluarga keturunan Armenia. Ketertarikannya terhadap fotografi membawanya menetap di Surabaya hingga akhir hayat.
Ia meninggal dunia pada 1903 dalam usia 52 tahun dan dimakamkan di Kompleks Makam Belanda Peneleh (Kerkhof Peneleh), Surabaya.
Sepeninggalnya, studio Atelier Kurkdjian tidak berhenti beroperasi. Studio tersebut kemudian diambil alih oleh fotografer asal Inggris, G.P. Lewis, yang sebelumnya bekerja bersama Kurkdjian.
Proses akuisisi itu membuat nama studio berubah menjadi O. Kurkdjian & Co. sebelum akhirnya dipindahkan dari kawasan Gemblongan ke kawasan Tunjungan yang saat itu berkembang sebagai pusat perdagangan dan bisnis Kota Surabaya. (*)