Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jalanan di Surabaya Era 1920-an Lebih Ramai dan Tertib ketimbang Batavia yang Masih Semrawut

Lambertus Hurek • Selasa, 23 Juni 2026 | 16:36 WIB
Jalan Kembang Jepun Surabaya terlihat sangat padat pada masa Hindia Belanda. (IST)
Jalan Kembang Jepun Surabaya terlihat sangat padat pada masa Hindia Belanda. (IST)

  

RADAR SURABAYA - Pada dekade 1920-an, Surabaya telah menjelma menjadi salah satu kota paling modern di Hindia Belanda. Kota pelabuhan ini dipenuhi berbagai moda transportasi modern seperti mobil, trem listrik, trem uap, bus, hingga taksi.

Di saat yang sama, kendaraan tradisional seperti dokar, pedati, kosong, sepeda, hingga pejalan kaki masih mendominasi jalan-jalan kota. Perpaduan antara kendaraan modern dan tradisional itu menciptakan wajah lalu lintas Surabaya yang sibuk, ramai, sekaligus penuh persoalan.

Baca Juga: DPRD Dorong Pemprov Jatim Bentuk BUMD Sektor Pangan

Modernisasi transportasi di Surabaya bukan hanya soal hadirnya kendaraan bermotor atau jalan beraspal. Modernisasi juga mengubah cara masyarakat memandang waktu, kecepatan, keteraturan, hingga disiplin di jalan raya.

Jalan-jalan besar seperti Pasar Besar, Tunjungan, Darmo Boulevard, hingga kawasan Simpang menjadi simbol kehidupan kota modern pada masa kolonial.

Film dokumenter bisu tahun 1929 tentang lalu lintas di Pasar Besar memperlihatkan bagaimana kota ini sudah memiliki sistem lalu lintas yang cukup maju. Arus kendaraan dibagi ke dalam jalur-jalur tertentu.

Baca Juga: Mendorong Generasi Inovatif, Penerbit Erlangga Hadirkan Platform Pembelajaran Interaktif Erklika Lab

Mobil dan bus melaju di satu sisi, sedangkan dokar dan sepeda berada di sisi lain. Trem listrik hilir mudik mengangkut penumpang, sementara polisi berdiri di tengah persimpangan untuk mengatur arus kendaraan.

Situasi itu jauh berbeda dibanding Batavia pada awal 1910-an yang masih terlihat semrawut. Surabaya dianggap lebih tertib dan lebih modern dalam pengelolaan lalu lintasnya. Namun di balik modernitas tersebut, muncul berbagai persoalan sosial yang mencerminkan ketimpangan masyarakat kolonial.

Salah satu tanda penting modernisasi adalah diberlakukannya surat izin mengemudi atau SIM. Hindia Belanda termasuk wilayah pertama di dunia yang memperkenalkan SIM sebelum banyak negara lain memiliki aturan lalu lintas yang jelas.

 Kebijakan ini lahir akibat meningkatnya kecelakaan lalu lintas yang dipicu banyak pengemudi tidak terampil mengendarai mobil. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#SIM pertama #Dokar #hindia belanda #trem listrik