RADAR SURABAYA - Kota Surabaya pada awal abad ke-20 tak hanya menjadi pusat perdagangan dan industri, tetapi juga menghadirkan hiburan baru bagi masyarakat yang kian sibuk. Charles Jacob dikenal sebagai salah satu pelopor yang memperkenalkan bioskop sebagai sarana rekreasi massal.
Pemerhati Sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, Charles Jacob mengembangkan bioskop sebagai sebuah industri hiburan yang terbuka bagi masyarakat luas.
Baca Juga: Pameran ‘Long Street’ di Taman Budaya Jatim Hadirkan Perupa Lintas Generasi, Begini Pertimbangannya
Film-film bisu yang diputar kala itu disajikan dalam ruang yang mampu menampung banyak penonton, lengkap dengan iringan musik untuk menambah semarak suasana.
"Charles Jacob mengenalkan bioskop sebagai ruang rekreasi dan entertainment yang bisa dinikmati lebih banyak orang. Konsepnya memang dibuat sebagai hiburan massal," ujarnya kemarin.
Berbeda dengan Charles Jacob, Joesoef menghadirkan bioskop dengan nuansa yang lebih sederhana dan eksklusif. Ruang pertunjukan yang dimilikinya relatif kecil dengan jumlah penonton yang terbatas. Meski sama-sama memutar film, pengalaman yang ditawarkan jauh berbeda dibandingkan bioskop milik Charles Jacob.
"Joesoef juga bisa dianggap sebagai sosok yang mengenalkan bioskop di Surabaya pada masa kolonial. Namun, ruang yang dimilikinya lebih kecil, sederhana dan sangat terbatas. Sifatnya lebih eksklusif," kata Nur.
Baca Juga: KUR BRI Tembus Rp84,36 Triliun, Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Kerakyatan
Perbedaan itu menunjukkan bahwa budaya menonton film di Surabaya tempo dulu telah berkembang dalam berbagai bentuk. Di satu sisi, Charles Jacob mengemas bioskop sebagai hiburan publik yang meriah dan dapat diakses banyak kalangan. Sementara di sisi lain, Joesoef menawarkan pengalaman menonton yang lebih intim dengan lingkup penonton yang terbatas.
Dua nama tersebut menjadi bagian dari jejak awal industri perfilman di Kota Pahlawan. Jauh sebelum pusat perbelanjaan modern dipenuhi layar lebar seperti sekarang, Surabaya ternyata telah mengenal budaya menonton film melalui ruang-ruang sederhana yang menjadi saksi lahirnya hiburan modern di Hindia Belanda. (dim)
Editor : Lambertus Hurek