RADAR SURABAYA - Di kawasan Pabean, Surabaya Utara, masih berdiri gedung eks Bioskop Pie Oen Kie. Salah satu bioskop yang sangat populer pada masa kolonial Hindia Belanda sebelum kemudian berganti nama menjadi Nanking Theatre.
Bagi warga Surabaya, nama Pie Oen Kie mungkin sudah asing. Namun, bagi keluarga besar Tjio, nama tersebut punya makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah bioskop.
Dr Anthony Tjio, dokter senior asal Surabaya, yang kini tinggal di Tiongkok, menuturkan bahwa Pie Oen Kie merupakan bagian dari sejarah keluarga besar Tjio yang telah lama berkiprah dalam dunia perdagangan dan usaha di Surabaya.
Baca Juga: Stefani Gabriela Rilis Buku Tema Mental Health Berjudul Setelah Aku Cut Off Warisan Trauma Keluarga
"Pie Oen Kie merupakan kongsi keluarga besar Tjio. Perusahaan tersebut didirikan oleh nenek saya, Tjio Ie Sioe, pendiri Hap Tai Kongsi di Jalan Panggung," ujarnya kepada Radar Surabaya, Selasa (16/6/2026).
Menurut Anthony, nama Pie Oen Kie dipilih untuk mengenang sosok Tjio Pie Oen, leluhur keluarga yang menjadi pelopor migrasi keluarga Tjio dari Cuanciu atau Quanzhou, Tiongkok Selatan, ke Surabaya. Dari kawasan Pecinan Surabaya, keluarga tersebut kemudian mengembangkan usaha perdagangan palawija dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Seiring perjalanan waktu, usaha keluarga Tjio tidak hanya bergerak di bidang perdagangan. Dunia hiburan juga menjadi salah satu bidang yang mereka geluti.
Anthony menjelaskan, adik dari neneknya, yakni Tjio Ie Lioe, kemudian membuka dan mengelola Bioskop Nanking yang merupakan kelanjutan dari Pie Oen Kie. "Adik nenek saya yang bernama Tjio Ie Lioe yang membuka Bioskop Nanking tersebut," katanya.
Baca Juga: Angka Dispensasi Kawin di Surabaya Turun 61 Persen, Edukasi Kampung hingga Jam Malam Anak Jadi Kunci
Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Bioskop Nanking memiliki peran penting dalam memperkenalkan film-film berbahasa Mandarin kepada masyarakat Tionghoa di berbagai daerah di Nusantara.
Menurut Anthony, Tjio Ie Lioe mengimpor film-film produksi Shanghai yang kemudian diputar di Surabaya sebelum didistribusikan ke berbagai kota lain.
"Beliau mengimpor film Mandarin produk Shanghai untuk ditayangkan kepada masyarakat Tionghoa di Nusantara pada waktu Indonesia merdeka. Dari bioskop Nanking tersebut film diedarkan ke seluruh Nusantara," jelasnya.
Keberadaan Nanking Theater menjadikan kawasan Pabean sebagai salah satu pusat hiburan masyarakat Tionghoa pada dekade 1940-an hingga 1960-an. Letaknya yang berada di kawasan permukiman Tionghoa membuat bioskop ini selalu ramai pengunjung.
Bagi Anthony, bangunan itu juga menyimpan kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Ia mengaku pernah tinggal di kompleks bioskop tersebut ketika masih anak-anak.
"Saya pernah tinggal di bioskop tersebut dan menonton film hampir setiap malam," kenangnya.
Baca Juga: Panen Emas dari BRImo, Ini Cara BRILink Agen Mendapatkan Reward dari BRI
Bahkan, ada pengalaman unik yang hingga kini masih diingatnya. "Saya duduk di baris paling depan, digigit kutu busuk, dan sebenarnya masih terlarang karena usia saya belum 13 tahun," ujarnya.
Meski era kejayaan bioskop-bioskop kota lama Surabaya telah lama berlalu, bangunan bekas Pie Oen Kie atau Nanking Theater masih bertahan hingga sekarang. Berbeda dengan sejumlah bioskop legendaris lain yang telah hilang atau dibongkar, gedung tua di Jalan Kalimati Kulon tersebut masih berdiri relatif utuh.
Saat ini bangunan itu difungsikan sebagai kantor cabang pembantu salah satu bank swasta nasional. Namun bentuk fasad dan karakter arsitekturnya masih mengingatkan pada masa ketika film-film dari Shanghai diputar setiap malam dan menjadi hiburan utama masyarakat Tionghoa Surabaya. (*)
Editor : Lambertus Hurek