Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dari Obelisk hingga Jam Digital, Begini Sejarah Panjang Penemuan Jam

M Firman Syah • Selasa, 9 Juni 2026 | 09:22 WIB
Siapa Sebenarnya Penemu Jam Pertama di Dunia?
Siapa Sebenarnya Penemu Jam Pertama di Dunia?

RADAR SURABAYA – Jam menjadi salah satu penemuan terpenting dalam sejarah peradaban manusia. Alat penunjuk waktu ini telah membantu manusia mengatur aktivitas sehari-hari selama ribuan tahun, jauh sebelum hadirnya teknologi digital seperti saat ini.

Namun, jam tidak langsung hadir dalam bentuk arloji atau jam pintar. Perjalanannya dimulai dari pemanfaatan fenomena alam oleh manusia kuno untuk mengetahui pergantian waktu.

Catatan sejarah menunjukkan, sekitar 3.500 SM masyarakat Mesir Kuno menggunakan bangunan batu tinggi yang dikenal sebagai obelisk untuk memperkirakan waktu berdasarkan arah dan panjang bayangan Matahari. Metode serupa juga digunakan bangsa Babilonia sekitar 2.000 SM dengan memanfaatkan tongkat yang ditancapkan tegak lurus ke tanah.

Seiring perkembangan zaman, metode tersebut memiliki keterbatasan karena tidak dapat digunakan pada malam hari maupun saat cuaca mendung. Kondisi itu mendorong lahirnya berbagai inovasi baru dalam pengukuran waktu.

Baca Juga: Pangkas Waktu dari 3 Jam Jadi 40 Menit, Teknologi Pemindai Iris Mata Ini Mudahkan Jemaah Haji Surabaya

Sekitar 1.380 SM pada masa pemerintahan Raja Amenhotep di Mesir, muncul teknologi jam air atau clepsydra. Alat ini bekerja menggunakan aliran air yang menetes secara konstan untuk mengukur durasi waktu.

Tak lama kemudian, manusia juga mengenal jam pasir yang memanfaatkan perpindahan pasir dari satu tabung ke tabung lainnya. Kedua teknologi tersebut kemudian menyebar ke Yunani, Romawi, hingga berbagai wilayah Eropa.

Lompatan besar dalam sejarah penunjuk waktu terjadi pada abad ke-14 ketika bangsa Eropa mulai mengembangkan jam mekanik. Salah satu tokoh yang dikenal dalam perkembangan teknologi ini adalah Henry de Vic.

Baca Juga: Pameran Cross Musea Pertiwi 2026 di Museum Dr Soetomo Surabaya, Belajar Sejarah lewat Pameran Museum Berbasis Teknologi

Atas permintaan Raja Charles V dari Prancis pada 1360, Henry de Vic berhasil merancang jam mekanik berbahan besi yang digerakkan menggunakan pemberat. Inovasi tersebut memiliki tingkat ketepatan yang lebih baik dibandingkan jam air maupun jam pasir. Beberapa tahun kemudian, Giovanni Dondi turut mengembangkan jam mekanik yang digunakan pada menara kota di Italia.

Perkembangan teknologi jam terus berlanjut pada abad ke-16. Seorang pengrajin asal Jerman, Peter Henlein, berhasil memperkecil ukuran jam dengan mengganti sistem pemberat menggunakan pegas baja. Penemuan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya jam portabel yang lebih praktis digunakan.

Kemudian pada 1656, astronom Belanda Christiaan Huygens mengembangkan jam pendulum dengan menggabungkan sistem pegas dan prinsip bandul yang sebelumnya dipelajari oleh Galileo Galilei. Jam pendulum menjadi salah satu alat pengukur waktu paling akurat pada masanya.

Baca Juga: Kunjungi Radar Surabaya, XLSMART Jalin Silaturahmi dan Ajak Kerja Sama Pemanfaatan Teknologi

Memasuki abad ke-20, teknologi jam kembali mengalami revolusi melalui penemuan jam kuarsa (quartz clock). Pada 1922, Warren Marrison dan rekan-rekannya mengembangkan sistem pengukuran waktu menggunakan getaran kristal kuarsa yang jauh lebih presisi dibandingkan teknologi sebelumnya.

Kini, jam telah berevolusi menjadi perangkat digital dan pintar dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Dari obelisk Mesir Kuno hingga smartwatch modern, perjalanan panjang penemuan jam menunjukkan bagaimana kreativitas manusia terus berkembang untuk mengukur waktu dengan semakin presisi. (nor/fir)

Editor : M Firman Syah
#jam digital #jam pasir #obelisk #teknologi #waktu