RADAR SURABAYA – Saat berenang di pantai, banyak orang pernah tanpa sengaja menelan air laut dan langsung merasakan rasa asin yang khas. Berbeda dengan air sungai yang umumnya terasa tawar, meski keduanya sama-sama menjadi bagian dari siklus air di bumi.
Perbedaan tersebut ternyata dipengaruhi oleh kandungan garam dan mineral yang terdapat di dalam air. Air laut memiliki kadar garam yang jauh lebih tinggi dibandingkan air sungai.
Para ilmuwan menjelaskan, garam di lautan berasal dari proses alam yang berlangsung selama jutaan tahun. Ketika hujan turun ke permukaan bumi, air akan mengikis batuan dan tanah yang mengandung berbagai mineral. Mineral-mineral tersebut kemudian terbawa oleh aliran sungai menuju laut. Seiring waktu, kandungan mineral terus terakumulasi di lautan dan menjadi semakin banyak.
Dua unsur yang paling dominan adalah natrium dan klorida. Ketika keduanya bergabung, terbentuklah natrium klorida atau garam yang menjadi penyebab utama rasa asin pada air laut. Di sisi lain, panas Matahari menyebabkan air laut terus mengalami penguapan. Namun, hanya air yang menguap ke atmosfer, sedangkan garam dan mineral tetap tertinggal di lautan.
Proses tersebut berlangsung berulang-ulang sehingga konsentrasi garam di laut terus terjaga dan membuat air laut memiliki rasa asin yang khas. Berbeda dengan laut, air sungai memang juga mengandung mineral dan sedikit garam. Namun jumlahnya relatif kecil karena sungai selalu mendapatkan pasokan air hujan baru dan terus mengalir menuju laut.
Aliran yang terus bergerak itu membuat garam tidak sempat terkumpul dalam jumlah besar seperti yang terjadi di lautan. Karena itulah air sungai tetap terasa tawar meski membawa mineral dari daratan. Fenomena ini menjadi salah satu contoh bagaimana proses alam bekerja secara berkelanjutan dalam membentuk karakteristik perairan di bumi. (rin/fir)
Editor : M Firman Syah