RADAR SURABAYA – Kalender modern yang digunakan hampir seluruh dunia saat ini terdiri dari 12 bulan dalam satu tahun. Namun, pernahkah terlintas pertanyaan mengapa jumlahnya 12, bukan 10, 15, atau angka lainnya?
Ternyata, pembagian waktu tersebut bukanlah keputusan yang dibuat secara sembarangan. Sistem 12 bulan merupakan hasil perpaduan antara pengamatan astronomi yang dilakukan peradaban kuno dan perkembangan sistem penanggalan yang terus disempurnakan sepanjang sejarah.
Jejak awal penggunaan 12 bulan diyakini berasal dari bangsa Babilonia kuno sekitar 1700 sebelum Masehi. Mereka mengamati bahwa satu siklus fase bulan, dari bulan baru hingga kembali ke bulan baru, berlangsung sekitar 29,5 hari.
Dalam satu tahun matahari, yaitu waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari, siklus tersebut terjadi sekitar 12 kali. Berdasarkan pengamatan itulah bangsa Babilonia mengembangkan sistem kalender lunar atau kalender berbasis peredaran bulan.
Meski demikian, sistem tersebut belum sepenuhnya akurat. Sebab, 12 siklus bulan hanya menghasilkan sekitar 354 hari, lebih pendek sekitar 11 hari dibandingkan satu tahun matahari yang berjumlah sekitar 365 hari.
Perbedaan itu menyebabkan kalender perlahan bergeser dari musim yang sebenarnya. Akibatnya, waktu tanam, panen, hingga kegiatan masyarakat menjadi kurang selaras dengan kondisi alam.
Dalam sejarah Romawi, Raja Romulus sempat memperkenalkan kalender yang hanya terdiri dari 10 bulan. Namun sistem tersebut dinilai kurang efektif karena mengabaikan sebagian periode musim dingin.
Kalender kemudian disempurnakan oleh penerusnya, Numa Pompilius, dengan menambahkan bulan Januari dan Februari sehingga jumlah bulan dalam setahun menjadi 12.
Perubahan besar kembali dilakukan pada masa Julius Caesar pada 46 SM. Dengan bantuan astronom Sosigenes, ia memperkenalkan Kalender Julian yang didasarkan pada pergerakan Matahari.
Dalam sistem tersebut, satu tahun ditetapkan memiliki 365,25 hari. Untuk menyesuaikannya, jumlah hari pada setiap bulan diatur menjadi 30 atau 31 hari, dengan beberapa pengecualian. Sistem itu kemudian disempurnakan lagi oleh Paus Gregorius XIII pada 1582 melalui Kalender Gregorian. Kalender inilah yang hingga kini menjadi standar penanggalan internasional.
Selain faktor astronomi, angka 12 juga dipertahankan karena dianggap praktis. Dalam matematika kuno, angka 12 memiliki banyak pembagi, yaitu 1, 2, 3, 4, dan 6, sehingga memudahkan perhitungan perdagangan, perpajakan, pembagian musim, hingga administrasi pemerintahan.
Karena alasan ilmiah dan kebutuhan praktis tersebut, sistem 12 bulan tetap bertahan selama ribuan tahun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia hingga saat ini. (nor/fir)
Editor : M Firman Syah