Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bukit Gunungsari Surabaya, Benteng Pertahanan Terakhir TKR dan Tentara Pelajar Dalam Pertempuran Surabaya November 1945

M. Mahrus • Rabu, 3 Juni 2026 | 09:46 WIB
Bukit Gunungsari jadi salah satu benteng pertahanan saat pertempuran 10 November 1945. (Mahrus/Radar Surabaya)
Bukit Gunungsari jadi salah satu benteng pertahanan saat pertempuran 10 November 1945. (Mahrus/Radar Surabaya)

 

 

RADAR SURABAYA - Di kawasan Surabaya Selatan terdapat bukit yang dahulu menjadi lokasi benteng terakhir pertahanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dalam masa perang 28 November 1945.

Bukit itu adalah Bukit Gunungsari. Bukit tersebut berada di pinggir Kali Suroboyo anak sungai Brantas. Di kawasan perbukitan ini pernah menjadi lokasi pertempuran dahsyat pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan dan Kota Surabaya.

Baca Juga: Kompak Melemah! Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 Turun Serentak Pagi Ini


Ketua Begandring Soerabaia Achmad Zaki Yamani mengatakan, pada 28 November 1945 lini pertempuran bergeser ke selatan. Serangan Inggris dengan kekuatan amat dahsyat dari darat, laut dan udara menggerakkan seluruh Divisi India ke 5 "Ball Of Fire" pertempuran-pertempuran terjadi di Kedungdoro, Keputran, dan Pandegiling.

Kemudin siangnya tank Sherman melakukan serangan ke arah Gunungsari dan Waru. Pejuang Surabaya saat itu berhadapan dengan tank-tank tersebut. Bekas-bekas roda gigi tank Sherman menggores dalam ke aspal di daerah serangan. Sebuah meriam beserta awaknya hangus terbakar.

"Meriam-meriam penangkis serangan udara Pak Gumbreg dan Pak Minggu telah menjatuhkan Tunderbolt-Tunderbolt Inggris. Lini Gunungsari garis pertahanan terakhir dalam mempertahankan Kota Surabaya dari serangan Inggris dipertahankan mati-matian.

TKR dan Tentara Pelajar bertempur dengan gagah berani  di area lapangan Golf Gunungsari," ujar Zaki kepada Radar Surabaya.

Baca Juga: Selama Ini Salah Paham, Ayam Berkokok Saat Fajar Ternyata Bukan karena Matahari

Zaki menambahkan, kala itu tembakan tank Sherman mengenai lubang pertahanan  TKR dan Tentara Pelajar. Tercatat 5 Tentara Pelajar gugur.

Kerangka dan persenjataan mereka baru ditemukan tahun 1980. Sementara  10 TKR dan Tentara Pelajar yang hilang di Gunungsari jasadnya tidak pernah ditemukan.

Kemudian pada 30 November 1945 pertempuran terakhir terjadi di Gunungsari dan Jembatan Wonokromo. Semua dihanguskan termasuk mobil dan truk yang tidak sempat dibawa mundur.

"Serangan infanteri yang didukung oleh tank-tank dan kendaraan lapis baja serta kekuatan udara menimbulkan korban yang tidak sedikit dari kedua belah pihak. Awalnya jembatan Wonokromo akan diledakkan akan tetapi rencana itu gagal karena kecepatan serangan tentara Inggris," jelasnya.

Dia melanjutkan seluruh markas kemudian dipindahkan ke luar Surabaya. Di antaranya Markas Kepolisian dan Kantor Pemerintah Sipil dipindahkan ke Kawedanan Sepanjang kemudian ke Mojokerto.

Markas pertahanan Surabaya ke Wringinanom, markas TKR-Pelajar ke Jeris Parengan, markas Polisi Istimewa Surabaya ke Karangpilang, dan markas Pasukan Perjuangan Polisi ke Sidoarjo.

"Setelah Gunungsari dan Wonokromo dapat dikuasai oleh tentara Inggris melalui perlawanan sengit berarti seluruh Kota Surabaya diduduki musuh. Maka berakhirlah 21 hari pertempuran Surabaya," bebernya.

Dia menuturkan, serangan Inggris saat itu dilanjutkan kearah kedudukan pasukan yang berada di luar Surabaya. "Pertempuran pasca perang Surabaya tidak lagi dinamakan Pertempuran Surabaya dikarenakan semua terjadi di luar Kota Surabaya.

Tentara Inggris menyebutnya Surabaya Front atau tentara Belanda mengenalnya dengan sebutan Surabaya Sector," pungkasnya. (rus)

Editor : Lambertus Hurek
#bukit Gunungsari #pertahanan arek suroboyo #pertempuran 10 November 1945 #Begandring Soerabaia #trip