Falsafah Moh Limo Diajarkan Sunan Ampel lalu Disebarluaskan Para Santrinya ke Seluruh Nusantara

M. Mahrus • Dipublikasikan Rabu, 27 Mei 2026 | 16:44 WIB

 

Makam Sunan Ampel di Surabaya pada masa kolonial Belanda. (IST)
Makam Sunan Ampel di Surabaya pada masa kolonial Belanda. (IST)

 

RADAR SURABAYA -- Salah satu ajaran dakwah sunan Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Moh Limo. Yakni, menghindari lima hal: Moh Main, Moh Ngombe, Moh Maling, Moh Madat, Moh Madon.

Pegiat Sejarah Surabaya Nanang Purwono mengatakan, ajaran Sunan Ampel Moh Limo dahulu awalnya diajarkan atau disampaikan kepada santrinya. Kemudian terus menyebar luas kepada masyarakat luas dan bahkan terkenal hingga sekarang.

Baca Juga: ITS Terima 2.468 Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2026, Jalur Mandiri Masih Dibuka

"Itu ajaran yang disampaikan ke santrinya. Jadi, itu menjadi pegangan kemudian terkenal. Ajaran Mbah Sunan Ampel ke murid-muridnya sehingga terkenal menyebar sampai sekarang," ucapnya kepada Radar Surabaya pekan lalu.

Nanang menjelaskan, Moh Main tidak mau berjudi, Moh Ngombe tidak mau minum arak atau mabuk, Moh Maling tidak mau mencuri atau mengambil hak orang lain. Kemudian Moh Madat tidak mau mengonsumsi narkoba, candu, atau merusak kesehatan, dan Moh Madon tidak mau berzina atau bermain perempuan).

"Sunan Ampel akhirnya tidak hanya sebagai pemimpin agama tapi pemimpin masyarakat," terangnya.

Baca Juga: Mantan Kepala Gudang di Sidoarjo Edarkan Produk Kedaluwarsa

Selain mengajarkan ajaran Moh Limo, di bidang ekonomi Sunan Ampel yang merupakan saudagar besar juga menegaskan bahwa Surabaya dan Nusantara merupakan pusat perkebunan rempah. Selepas Sunan Ampel atau Raden Rahmat wafat abad 15, dibuat gapura dengan gambar rempah dan ada prasasti di kawasan Ampel.

"Sunan Ampel sebagai saudagar sebagai pemimpin rakyat dan sebagai ulama dia banyak mensiarkan nilai itu. Sehingga sebagai kenangan akhirnya dibangun gapura itu.

Dia sebagai saudagar yang daganganya pasti rempah-rempah itu melimpah sekali. Maka, untuk menyampaikan pesan itu agar rakyat kemudian hari ingat pada nilai ekonomi perkebunan rempah maka dituliskan itu diprasastikan (di gapura)," tandasnya. (rus)

Editor : Lambertus Hurek
Moh Limo santri sunan ampel raden rahmat sunan ampel