Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

House of Sampoerna di Surabaya, Dari Panti Asuhan hingga Museum Rokok di Surabaya Lama

Dimas Mahendra • Rabu, 20 Mei 2026 | 14:19 WIB
House of Sampoerna di Surabaya pernah jadi destinasi wisata heritage. (IST)
House of Sampoerna di Surabaya pernah jadi destinasi wisata heritage. (IST)

 

 

RADAR SURABAYA – Di tengah kawasan Surabaya Utara yang sarat bangunan kolonial, berdiri sebuah gedung tua bergaya megah yang selama puluhan tahun menjadi salah satu ikon sejarah kota, yakni House of Sampoerna.

Tak banyak yang tahu, bangunan berarsitektur klasik itu ternyata memiliki perjalanan panjang sebelum dikenal sebagai museum rokok dan destinasi wisata sejarah seperti sekarang.

Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, mengungkapkan gedung tersebut pertama kali dibangun pada era kolonial sekitar tahun 1862 hingga 1864. Awalnya, bangunan itu difungsikan sebagai panti asuhan anak terlantar di bawah lembaga bernama JWI. “Awalnya memang digunakan sebagai panti asuhan anak,” kata Nur.

Baca Juga: Hadirkan Mongolian Grill Khas Oriental di Hotel Ciputra World Surabaya, Terinspirasi Sajian Populer Taiwan

Namun fungsi sosial itu tidak berlangsung lama. Pada 1912, panti asuhan dipindahkan ke lokasi lain dan bangunan tersebut beralih menjadi gedung pertunjukan seni untuk menghibur warga Eropa yang tinggal di Surabaya pada masa kolonial.

Di masa itu, gedung tersebut dikenal sebagai ruang hiburan elite. Pagelaran seni hingga pertunjukan teater digelar di sana untuk menemani kehidupan sosial masyarakat Eropa di kota pelabuhan terbesar Hindia Belanda bagian timur tersebut.

Menurut Nur, bangunan itu memiliki langgam arsitektur neo-klasik yang sangat khas. Bagian depannya tampak gagah dengan pilar besar, sementara bagian dalamnya luas dan mewah untuk ukuran zamannya.

“Gedungnya bergaya neo-klasik, megah di bagian depan dan sangat luas di dalam,” ujarnya.

Bahkan, beredar cerita bahwa komedian legendaris dunia Charlie Chaplin disebut pernah datang ke gedung pertunjukan tersebut ketika masih aktif menjadi pusat hiburan kolonial.

Baca Juga: Peringatan Harkitnas, Wawali Armuji: Kita Memastikan Anak Surabaya Tumbuh Sehat dan Aman di Ruang Digital

Memasuki era 1930-an, sejarah gedung kembali berubah. Bangunan itu dibeli saudagar Tionghoa bernama Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan rokok Sampoerna. Sejak saat itu, bekas gedung pertunjukan tersebut difungsikan sebagai gudang sekaligus tempat produksi rokok kretek.

Puluhan tahun kemudian, tepatnya pada 2003, keturunan keluarga Sampoerna mengubah bangunan bersejarah itu menjadi museum hidup yang menceritakan perjalanan industri kretek dan sejarah keluarga pendiri Sampoerna di Surabaya.

Museum tersebut kemudian dikenal luas sebagai House of Sampoerna, salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di Surabaya. Selain koleksi sejarah rokok, tempat itu juga sempat menawarkan city tour gratis yang membawa wisatawan menyusuri jejak Surabaya lama.

Namun pandemi Covid-19 membuat aktivitas museum meredup. House of Sampoerna yang sebelumnya ramai wisatawan perlahan menjadi sunyi. “Sekarang suasananya seperti gedung tua lainnya, lebih sepi,” kata Nur.

Meski begitu, bangunan cagar budaya itu tetap menjadi saksi bisu perubahan Surabaya selama lebih dari 160 tahun. Dari panti asuhan, gedung pertunjukan kolonial, pabrik rokok, hingga museum sejarah, House of Sampoerna menyimpan potongan panjang wajah Kota Pahlawan lintas zaman. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#House of Sampoerna #museum rokok #charlie chaplin #Liem Seeng Tee #covid 19 di indonesia