
RADAR SURABAYA – Jauh sebelum mal dan cineplex memenuhi sudut Kota Pahlawan, Surabaya ternyata sudah mengenal budaya menonton film sejak awal 1900-an. Menariknya, sejarah bioskop di kota ini tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan hiburan modern, tetapi juga lahir dari ruang tontonan kecil yang eksklusif untuk kalangan tertentu.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, mengungkapkan bahwa salah satu sosok yang dianggap turut mengenalkan bioskop di Surabaya masa kolonial adalah pria berjuluk Joesoef sekitar tahun 1905.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp17.700, DPR Minta Masyarakat Tak Panik Hadapi Pelemahan Rupiah
Menurut Nur, pada masa itu publik sebenarnya lebih dahulu mengenal bioskop lewat pertunjukan yang dibawa Charles Jacob. Ia memperkenalkan konsep bioskop sebagai ruang hiburan modern yang terbuka bagi masyarakat luas.
“Charles Jacob mengenalkan bioskop sebagai ruang rekreasi dan entertainment yang bisa dinikmati banyak orang,” kata Nur.
Namun di balik pertunjukan besar tersebut, ada sosok lain bernama Joesoef yang disebut turut menghadirkan pengalaman menonton film di Surabaya. Bedanya, konsep yang dibawa jauh lebih sederhana dan terbatas.
“Bioskop milik Joesoef ini ruangnya lebih kecil, sederhana, dan eksklusif. Penontonnya terbatas,” ujarnya.
Keberadaan bioskop kecil itu menjadi potret awal bagaimana film mulai masuk ke kehidupan masyarakat Surabaya pada era kolonial. Saat itu, menonton gambar bergerak masih dianggap pengalaman mewah dan modern, berbeda dengan hari ini ketika bioskop menjadi hiburan yang mudah diakses siapa saja.
Baca Juga: Akhir Era Guardiola di Manchester City? Laga vs Aston Villa Jadi Penentuan!
Jika Charles Jacob menghadirkan bioskop sebagai tontonan massal, maka ruang milik Joesoef justru lebih menyerupai pertunjukan privat untuk kalangan tertentu. Dari sinilah, budaya sinema perlahan tumbuh di Surabaya sebelum akhirnya berkembang menjadi hiburan populer lintas generasi.
Jejak tersebut juga memperlihatkan bahwa Surabaya sudah menjadi kota modern sejak lebih dari seabad lalu. Di tengah hiruk-pikuk pelabuhan dan perdagangan kolonial, masyarakat kota ternyata sudah mulai akrab dengan teknologi hiburan baru bernama film.
Kini, ketika bioskop modern berdiri megah di berbagai pusat perbelanjaan, sejarah kecil tentang Joesoef menjadi pengingat bahwa budaya menonton di Surabaya lahir dari ruang sederhana yang dahulu hanya bisa dinikmati segelintir orang. (*)
Editor : Lambertus Hurek