Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dari Film Bisu ke Layar Modern, Ini Jejak Awal Bioskop di Surabaya

Dimas Mahendra • Jumat, 8 Mei 2026 | 09:46 WIB
Jejak bioskop tempo doeloe di Jalan Kranggan Surabaya. (IST)
Jejak bioskop tempo doeloe di Jalan Kranggan Surabaya. (IST)
 
 
RADAR SURABAYA – Jauh sebelum deretan bioskop modern berdiri di pusat perbelanjaan, Surabaya telah lebih dulu mengenal budaya menonton film sejak awal abad ke-20. Sejarah ini tak lepas dari geliat industrialisasi yang menjadikan Kota Pahlawan sebagai pusat aktivitas ekonomi di kawasan timur Jawa.
 
Pegiat sejarah Nur Setiawan menjelaskan, lonjakan aktivitas industri kala itu menarik banyak pendatang dari berbagai latar belakang, mulai dari Eropa hingga Tionghoa. Mereka datang untuk bekerja maupun mengembangkan usaha.
 
Baca Juga: Adopsi Anak di Surabaya Kian Mudah, Dinsos Buka Layanan Konsultasi untuk Calon Orang Tua Angkat
 
“Karena Surabaya menjadi kota yang sangat sibuk, kebutuhan hiburan bagi para pekerja juga ikut meningkat. Dari situlah bioskop mulai hadir sebagai alternatif hiburan,” ujarnya.
 
Salah satu tokoh penting dalam perkembangan awal bioskop di Surabaya adalah Charles Jacob. Ia dikenal sebagai pelopor yang mengembangkan bisnis hiburan layar lebar di wilayah timur Jawa.
 
Pada masa itu, konsep bioskop masih sangat sederhana. Film yang diputar belum memiliki suara atau dikenal sebagai film bisu. Penonton hanya disuguhkan gerak akting para pemain di layar tanpa dialog.
 
Namun, untuk menghidupkan suasana, pengelola bioskop menghadirkan sentuhan unik. “Agar tidak terasa kaku, biasanya ada pengiring musik yang dimainkan sebelum atau sesudah film diputar,” terang Nur.
 
Salah satu bioskop awal yang tercatat dalam sejarah adalah Oost Java Bioskoop. Bioskop ini berdiri tak jauh dari gedung Raad van Justitie—yang kini dikenal sebagai kawasan Tugu Pahlawan.
 
Baca Juga: Harga Emas Hari Jumat 8 Mei 2026: UBS Turun, Antam dan Galeri24 Naik
 
Nama “Oost Java Bioskoop” sendiri memiliki arti “bioskop di Jawa Timur”, mencerminkan perannya sebagai pusat hiburan modern pada masanya. Menariknya, bangunan bekas bioskop tersebut disebut masih bertahan hingga sekitar tahun 1970-an, meski pengelolaannya sudah beralih ke masyarakat pribumi.
 
Selain itu, terdapat pula nama Bioskop Luxor yang diyakini sebagai bagian dari jaringan bioskop awal milik Charles Jacob.
Seiring waktu, perkembangan teknologi mengubah wajah industri perfilman di Surabaya. Dari film bisu yang diiringi musik langsung, kini masyarakat dapat menikmati film dengan kualitas suara dan visual canggih.
 
Meski begitu, jejak sejarah tersebut menjadi bukti bahwa budaya menonton di Surabaya telah tumbuh sejak lama, seiring denyut kehidupan kota yang terus bergerak maju. (*)
Editor : Lambertus Hurek
#bioskop surabaya #film bisu #Charles Jacob #bioskop Luxor #Oost Java Stoomtram Maatschappij