Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jejak Sejarah Pasar Maling di Wonokromo Surabaya, Bermula dari Lokalisasi Kelas Teri di Dekat Rel Kereta Api

Lambertus Hurek • Kamis, 7 Mei 2026 | 09:58 WIB
Lokasi Pasar Maling di kawasan Wonokromo Surabaya. (Hurek/Radar Surabaya)
Lokasi Pasar Maling di kawasan Wonokromo Surabaya. (Lambertus Hurek/Radar Surabaya)

 

 

RADAR SURABAYA – Kawasan rel Stasiun Wonokromo kini tampak lebih lengang. Riuh rendah transaksi barang murah yang melegenda selama puluhan tahun di sana resmi berakhir setelah Pemerintah Kota Surabaya melakukan penertiban total bulan lalu.

 Di balik hiruk-pikuknya, Pasar Maling menyimpan sejarah panjang yang berakar dari sisi gelap kota sejak era 1950-an.

Baca Juga: Viral! Guru Potong Paksa Rambut Siswi SMKN 2 Garut, KPAI Desak Evaluasi Disiplin Sekolah, KDM Kirim Siswa ke Salon

Menurut penelitian Wahyu Tri Wiyoso, cikal bakal Pasar Maling bukanlah perdagangan, melainkan hiburan malam kelas bawah. Pada tahun 1950-an, kawasan ini dikenal sebagai lokalisasi kelas teri atau tempat remang-remang.

Meski berkali-kali diobrak oleh petugas, praktik prostitusi di pinggiran rel ini tetap bertahan dengan cara main kucing-kucingan. Seiring berjalannya waktu, keramaian di lokasi prostitusi tersebut menarik minat para pedagang dadakan.

Mereka mulai menggelar lapak yang menawarkan aneka barang bekas, barang selundupan, hingga barang hasil curian. Dari sinilah julukan Pasar Maling melekat, menjadikannya semacam black market legendaris di Surabaya.

Memasuki akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Pasar Maling mencapai puncak popularitasnya beriringan dengan tren telepon seluler (HP). Sebelum era Android, kawasan ini adalah surga bagi pencari ponsel murah.

Harga yang miring karena status barang selundupan atau bekas pakai membuat pengunjung membeludak. Bahkan saat teknologi Android masuk, aktivitas ekonomi di sini makin menggila. Setiap malam, para pedagang berdiri di pinggir jalan, mencegat pengendara motor yang berniat menjual HP mereka secara cepat tanpa prosedur rumit.

Baca Juga: KOVO Resmi Umumkan Tryout Liga Voli Korea 2026-2027, Vanja Bukilic Kembali Berebut Kontrak

Kejayaan Pasar Maling mulai goyah saat Wali Kota Tri Rismaharini memimpin Surabaya. Pada periode 2013-2014, langkah tegas Risma menutup lokalisasi di kawasan tersebut menjadi pukulan telak. Hilangnya magnet utama membuat jumlah pengunjung merosot tajam hingga di bawah 30 persen.

 Ratusan lapak yang dulu berjejer rapat perlahan hilang, menyisakan belasan pedagang yang mencoba bertahan.

Napas terakhir Pasar Maling di pinggir jalan Stasiun Wonokromo akhirnya terhenti bulan lalu. Wali Kota Eri Cahyadi memimpin langsung penertiban karena keberadaan pasar ini dianggap sebagai biang kemacetan kronis yang mengganggu arus lalu lintas.

Kini, para pedagang yang tersisa telah direlokasi ke kawasan dekat Pasar Turi dan lokasi lain. Rel Wonokromo kini dipaksa bersih demi ketertiban kota, menyisakan nama Pasar Maling dalam catatan sejarah urban Surabaya.(*)

Editor : Lambertus Hurek
#sejarah pasar maling #lokalisasi wonokromo #black market #pasar maling #wonokromo