RADAR SURABAYA - Suasana Jalan Jagalan, Surabaya, pada Rabu malam di era 1990-an selalu tampak berbeda. Deretan toko yang biasanya ramai aktivitas perdagangan berubah menjadi pusat kerumunan warga yang datang dengan satu tujuan. Yakni, menebak angka kupon Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).
Program yang digagas pemerintah melalui Kementerian Sosial ini kala itu menjadi fenomena tersendiri. Setiap Rabu malam, masyarakat dari berbagai kalangan memadati toko-toko yang menyediakan kupon resmi SDSB. Mereka rela antre demi membeli harapan. Sebuah kombinasi angka yang diyakini bisa membawa keberuntungan.
Baca Juga: Kecelakaan Adu Banteng Motor Tabrak Mobil di Ngagel Surabaya, Warga Dinoyo Meninggal
Hadiah yang ditawarkan memang tergolong besar pada masanya. Tak heran jika banyak warga tergoda untuk terus mencoba peruntungan. Namun, di balik euforia tersebut, tak sedikit pula yang akhirnya terjebak dalam kebiasaan menebak angka yang kerap disebut-sebut sebagai “perjudian resmi”.
Salah satu warga Surabaya, Ariawan Sulistya, masih mengingat jelas pengalamannya. Ia pernah berhasil menembus tebakan tiga angka ‘314’ dan membawa pulang hadiah sebesar Rp80 ribu — jumlah yang cukup besar pada waktu itu.
“Senang sekali waktu itu. Uangnya bisa buat banyak kebutuhan,” kenangnya.
Baca Juga: Suami Kena Stroke Tidak Bisa Beri Nafkah Lahir Batin, Istri Gugat Cerai di PA Surabaya
Kemenangan tersebut sempat membangkitkan semangat Ariawan untuk terus bermain. Ia kembali mencoba peruntungan di minggu-minggu berikutnya, berharap keberhasilan serupa terulang. Namun, harapan itu tak pernah terwujud.
“Saya terus coba lagi, tapi tidak pernah dapat lagi sampai akhirnya SDSB ditutup,” ujarnya.
Program SDSB sendiri akhirnya resmi dihentikan oleh pemerintah, seiring meningkatnya kritik dari berbagai pihak yang menilai praktik tersebut lebih dekat dengan perjudian daripada kegiatan sosial.
Kini, suasana riuh setiap Rabu malam di Jalan Jagalan tinggal menjadi kenangan. Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, kisah tentang angka, harapan, dan keberuntungan itu tetap hidup sebagai bagian dari nostalgia era 90-an. (*)
Editor : Lambertus Hurek