RADAR SURABAYA - Salah satu kampung tua yang perlahan hilang ditelan perkembangan kota adalah Panjunan. Cikal bakal kawasan Bumiharjo saat ini. Jejaknya hanya tersisa melalui sebuah punden di sisi selatan Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa Panjunan merupakan salah satu kampung kuno yang telah tercatat dalam peta wilayah Surabaya sejak abad ke-19.
Pada tahun 1860-an, kawasan itu mulai mengalami pergeseran setelah perusahaan kereta api Hindia Belanda, Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS), membangun depo dan stasiun di wilayah tersebut.
Baca Juga: Siapkan Mahasiswa Hadapi Perubahan Global, Bahas Tips Memilih Perguruan Tinggi yang Tepat
Menurutnya, pembangunan jalur transportasi kala itu menjadi titik awal berubahnya wajah kampung lama di tepian Kali Surabaya atau Wonokromo. Aktivitas ekonomi dan mobilitas modern mulai masuk, sementara permukiman lama perlahan terdesak.
Meski begitu, Panjunan masih bertahan hingga awal abad ke-20. Namun, perubahan besar kembali terjadi sekitar tahun 1920 saat KBS mulai dibangun.
“Ketika KBS berdiri, warga Panjunan mulai dipindahkan ke arah utara, sekitar Pandegiling,” jelasnya.
Relokasi tersebut membuat nama Panjunan perlahan menghilang dari peta kota. Kini, yang diyakini sebagai penanda terakhir kampung lama itu hanyalah sebuah punden yang masih dijaga warga.
Baca Juga: HGI City Cup 2026 Surabaya Fest Resmi Dibuka, Turnamen Domino Angkat Level Olahraga Pikiran
Setiap tahun, lokasi tersebut masih menjadi pusat tradisi sedekah bumi dengan ritual wayang kulit, tumpengan, dan doa bersama. Tradisi itu dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur serta pengingat bahwa kawasan modern Surabaya pernah berdiri di atas kampung tua bersejarah.
Kawasan Bumiharjo yang dikenal saat ini, mulai dihuni para pendatang sejak dekade 1960-an dan berkembang pesat pada 1980-an. “Sejak 1960-an warga mulai berdatangan, lalu semakin padat pada tahun 1980-an,” tuturnya. (dim)
Editor : Lambertus Hurek