Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Gunungsari Pernah Jadi Pusat Produksi Batu Merah di Surabaya, Begini Riwayatnya

Lambertus Hurek • Kamis, 23 April 2026 | 12:35 WIB
Batu merah yang diproduksi di Gunungsari siap dikirim lewat Sungai Kalimas Surabaya. (SIN PO)

 
Batu merah yang diproduksi di Gunungsari siap dikirim lewat Sungai Kalimas Surabaya. (SIN PO)  

 

RADAR SURABAYA - Pembuatan batu merah di kawasan Gunungsari, Surabaya, pernah menjadi denyut kehidupan ekonomi rakyat pada masa lampau. Aktivitas ini, sebagaimana dimuat majalah Sin Po tahun 1940, menggambarkan betapa sibuknya tepian Sungai Kalimas—yang juga dikenal sebagai Kali Surabaya—oleh para pekerja yang setiap hari memproduksi puluhan hingga ratusan ribu bata.

Prosesnya dimulai dari lumpur yang direndam dalam lubang besar, kemudian dicampur pasir hingga membentuk adonan menyerupai lempung. Adonan ini lalu dicetak di atas tanah lapang yang rata dan bersih.

Baca Juga: AP Solution Day 2026 Dorong Transformasi Digital Berbasis AI

Setelah mengering, bata-bata mentah ditumpuk hingga menggunung, menyerupai benteng kecil, dengan bagian tengahnya diisi kayu dan rerumputan sebagai bahan bakar.

Pembakaran dilakukan selama beberapa hari, tidak dengan api yang menyala besar, melainkan cukup dari bara rerumputan yang menghasilkan panas merata. Dari proses sederhana ini, terciptalah bata merah yang matang dan siap digunakan sebagai bahan bangunan.

Para pekerja, baik laki-laki maupun perempuan, bekerja dengan penuh semangat. Upah yang mereka terima mungkin tidak seberapa—sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari—namun roda produksi terus berputar.

Selain itu, kawasan ini juga dikenal memiliki aktivitas peternakan sapi perah yang hasil susunya dipasok untuk kebutuhan masyarakat Eropa dan Tionghoa pada masa itu.

Baca Juga: Dari Kartini untuk Bumi: BRI Berdayakan Perempuan Lewat Urban Farming Program BRInita

Keunikan lain dari industri batu merah Gunungsari adalah sistem distribusinya. Ribuan bata yang telah selesai dibakar diangkut menggunakan rakit sederhana, kemudian dihanyutkan mengikuti arus Sungai Kalimas menuju pusat kota Surabaya. Sungai menjadi jalur transportasi utama yang efisien pada zamannya.

Namun, seiring berjalannya waktu, geliat industri batu merah di Gunungsari perlahan memudar. Perubahan zaman, alih fungsi lahan, serta berkembangnya teknologi produksi bahan bangunan membuat usaha tradisional ini kian ditinggalkan.

Saat ini, kebutuhan batu merah di Surabaya sebagian besar dipasok dari luar daerah, seperti Gresik dan wilayah lain di Jawa Timur. Generasi sekarang mungkin tidak lagi menyaksikan kesibukan rakit-rakit bata di Sungai Kalimas. Namun, sejarah ini tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Kota Surabaya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#batu merah #batu bata #produksi batu merah #Gunungsari #kalimas