RADAR SURABAYA – Jauh sebelum dinas sosial modern seperti sekarang, persoalan perempuan telantar, gelandangan, hingga pekerja seks di kota-kota besar ternyata sudah menjadi perhatian serius. Di masa kolonial, upaya penanganannya banyak dilakukan oleh lembaga swadaya atau yayasan sosial.
Salah satu jejak itu terekam dalam iklan kuno di surat kabar Panjebar Semangat edisi 11 Februari 1939.
Dalam iklan tersebut, tercantum sebuah lembaga bernama “Vereeniging Vrouwentehuis Soerabaia” yang beralamat di Pasar Besar Wetan 5/7, Surabaya.
Isi iklan tersebut cukup jelas menggambarkan fungsi sosial lembaga ini. Disebutkan bahwa perkumpulan tersebut memberikan perlindungan kepada “kaoem perempoean jang tersesat dan terlantar”. Mereka tidak hanya ditampung, tetapi juga dididik agar memiliki keterampilan praktis.
Perempuan yang ditampung dilatih menjadi pembantu rumah tangga (baboe), juru masak (kokki), hingga pekerjaan domestik lain. Tujuannya sederhana tapi progresif untuk ukuran zaman itu: agar mereka bisa mencari penghidupan sendiri.
Model seperti ini menunjukkan pendekatan rehabilitatif, bukan semata represif. Perempuan yang dianggap “tersesat” tidak langsung dikriminalisasi, tetapi diarahkan untuk kembali ke kehidupan sosial melalui pelatihan kerja.
Kawasan Pasar Besar Wetan sendiri sejak lama dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi sekaligus kawasan padat penduduk di Surabaya lama. Tidak heran jika persoalan sosial, termasuk perempuan telantar dan pekerja seks, muncul di wilayah tersebut.
Jika dibandingkan dengan sekarang, pendekatan penanganan perempuan rentan memang telah berubah. Pemerintah melalui dinas sosial memiliki peran dominan, dengan program rehabilitasi, pelatihan, hingga penjangkauan jalanan.
Saat ini, kelompok perempuan dalam kondisi serupa dikategorikan sebagai WRSE (wanita rawan sosial ekonomi).
Istilah WRSE merujuk pada perempuan yang menghadapi kerentanan akibat faktor ekonomi dan sosial, seperti kemiskinan, keterbatasan akses kerja, hingga risiko eksploitasi.
Pendekatan ini lebih administratif dan berbasis program, berbeda dengan istilah lama yang cenderung bernuansa moral.
Namun, semangat yang mendasarinya tetap sama: membantu perempuan keluar dari kondisi rentan agar bisa mandiri. Iklan kecil di koran tahun 1939 itu menjadi bukti bahwa di tengah kerasnya kehidupan kota kolonial, sudah ada upaya—meski sederhana—untuk memberi kesempatan kedua bagi perempuan yang tersingkir.(*)
Editor : Lambertus Hurek