RADAR SURABAYA - Bangunan antik di Jalan Kembang Jepun 180 itu dulunya kantor Java-China-Japan-lijn (JCJL). Sebuah perusahaan pelayaran internasional yang menghubungkan Jawa, Tiongkok, dan Jepang.
Setelah perusahaan tersebut tidak lagi beroperasi akibat dampak Perang Dunia, gedung itu sempat dimanfaatkan oleh perusahaan milik Oei Tiong Ham sebagai salah satu kantor administrasinya. Tokoh yang dijuluki “raja gula” Asia Tenggara itu memang memiliki jaringan bisnis luas di Surabaya.
Baca Juga: Menteri PPN Dukung Hilirisasi Riset di ITS Surabaya
Secara visual, kondisi bangunan itu masih mendekati bentuk aslinya meski telah mengalami modifikasi. Ornamen fasad, proporsi jendela, serta struktur utama menunjukkan ciri khas arsitektur kolonial di kawasan perdagangan Surabaya. Beberapa sentuhan modern memang tampak, tapi tidak menghapus identitas historis yang melekat kuat pada gedung ini.
Menurut catatan Surabaya Benedenstad, bangunan tersebut menjadi bagian penting dari lanskap kota lama Surabaya. Keberadaannya merekam perjalanan panjang kawasan yang pernah menjadi pusat transaksi dagang, perkantoran, dan lalu lintas keuangan sejak masa Hindia Belanda hingga era kemerdekaan.
Baca Juga: Bahaya Tidur di Mobil dengan Mesin dan AC Menyala, Risiko Keracunan Mengintai
Pada 15 April 1969, gedung tersebut mulai digunakan sebagai kantor Bank Karman, singkatan dari Karya Aman. Memasuki era 1990-an, bank itu mengalami guncangan sebelum akhirnya diakuisisi oleh pengusaha Chairul Tanjung dan berganti nama menjadi Bank Mega. (*)
Editor : Lambertus Hurek