Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kampung Grogol di Surabaya Tempo Dulu Jadi Benteng Pertahanan

Lambertus Hurek • Sabtu, 11 April 2026 | 02:32 WIB
 Peta Surabaya tempo doeloe menurut Von Faber. (IST)
 Peta Surabaya tempo doeloe menurut Von Faber. (IST)

 

RADAR SURABAYA - Nama Grogol mungkin tak asing bagi warga Surabaya sebagai sebutan sebuah kampung di Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Genteng. Menurut peta Von Faber, kawasan ini dulunya merupakan sebuah benteng dan kawasan pertahanan yang strategis. Terletak di lahan antara Sungai Kalimas dan Sungai Pegirian.

Pegiat Sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan bahwa konsep kota pertahanan ini sebenarnya sudah melekat sejak lama. Bahkan, sejak abad ke-13, Surabaya memang didesain sebagai kota benteng.

Baca Juga: Harga Plastik Naik Tajam, Pengamat Sebut sebagai Momentum untuk Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan

“Jadi, Surabaya ini seperti diciptakan menjadi kota pertahanan, yang berarti pula tidak pernah luput dari bahaya atau tantangan. Wajar bila nama kota ini Surabaya yang berarti berani menghadapi bahaya atau tantangan (Soera-ing-Baya),” ujarnya.

Secara geografis, lanskap Surabaya masa lalu memang didominasi oleh banyak sungai dan kedung. Sama seperti kawasan Patjekan, Grogol juga berada di antara percabangan sungai yang berfungsi sebagai jalur pertahanan alami.

Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Pengusaha Roti di Surabaya Khawatir Kehilangan Pelanggan

Pada masa itu, sungai menjadi jalur vital lalu lintas yang menghubungkan pusat kerajaan, yang kalaupun masih berada dalam wilayah administratif Majapahit. Berbeda dengan Patjekan yang namanya sudah mulai hilang, nama Grogol hingga kini masih lestari, meski penyebutannya kini lebih condong ke arah utara sekitar kawasan Jagalan.

Keberadaan sistem pertahanan ini juga tercermin dari nama-nama kawasan di sekitarnya yang memiliki makna khusus. Misalnya, Ngemplak yang berarti lahan tandus dan terbuka. Jimerto berasal dari kata Jibah atau wajib lapor dan warta atau berita, memiliki makna wajib lapor di pos penjagaan yang ada.

"Dengan kata lain, tamu yang hendak masuk ke wilayah Surabaya, mereka wajib lapor,” pungkasnya. (rmt) 

Editor : Lambertus Hurek
#kampung grogol #sungai kalimas #sungai pegirian tempo dulu #Von Faber #alun alun contong