RADAR SURABAYA – Di kawasan Wonocolo, Surabaya selatan, pernah berdiri sebuah pabrik penyamakan kulit yang menjadi bagian penting denyut industri Surabaya sejak era kolonial.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menuturkan bahwa Pabrik Kulit Wonocolo telah beroperasi sejak dekade 1920–1930-an. Pada masa itu, pabrik tersebut memproduksi dan menyamak bahan kulit mentah yang kemudian diolah menjadi tas, sepatu, dan berbagai produk turunan lainnya.
“Pabrik kulit Wonocolo sebetulnya sudah ada sejak zaman kolonial. Aktivitasnya penyamakan kulit, bahan mentah yang akan dijadikan produk jadi,” ujarnya.
Sebagai pabrik besar pada masanya, aktivitas perburuhan menjadi denyut utama di dalamnya. Namun, operasional pabrik sempat terhenti ketika perang kemerdekaan pecah. Setelah situasi ekonomi Indonesia mulai membaik pada awal 1960-an, aktivitas produksi kembali berjalan.
Tak berlangsung lama, gejolak politik nasional pada 1965 kembali menghentikan aktivitas pabrik. Situasi tersebut berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk industri di kota-kota besar seperti Surabaya.
Menurut penuturan Nur Setiawan, saat pabrik tidak lagi beroperasi, bangunan tersebut menjadi lokasi yang menyimpan kisah kelam. Sejumlah buruh pabrik dan warga sekitar yang dituding terafiliasi dengan partai terlarang disebut mengalami penangkapan dan eksekusi tanpa proses pengadilan.
Baca Juga: Harga Emas Kamis 2 April Melejit! Antam Tembus Rp3 Juta per Gram
“Saat tak ada aktivitas, para buruh atau pekerja yang dianggap terafiliasi dijemput pada malam hari dan dieksekusi di dalam pabrik,” katanya.
Tidak ada catatan resmi mengenai jumlah korban maupun identitas mereka. Namun berdasarkan cerita warga yang pernah dihimpunnya pada awal 2000-an, korban disebut tidak hanya berasal dari lingkungan pabrik, melainkan juga dari wilayah lain di Surabaya.
Masyarakat setempat kala itu menyebut rangkaian peristiwa tersebut sebagai “pembersihan”, istilah yang merujuk pada penumpasan terhadap pihak-pihak yang dianggap terkait dengan partai terlarang. (*)
Editor : Lambertus Hurek