RADAR SURABAYA - Lebaran Ketupat atau yang sering disebut Kupatan merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di Jawa.
Perayaan ini berlangsung pada hari ke-8 bulan Syawal, tepat seminggu setelah Idul Fitri.
Tradisi ini tidak hanya sekadar menyajikan ketupat sebagai hidangan utama, tetapi juga mengandung makna spiritual yang mendalam.
Lebaran Ketupat menjadi simbol penyempurnaan ibadah puasa Syawal, rasa syukur atas nikmat Allah, serta momentum mempererat silaturahmi antarwarga.
Asal Usul dan Pencetus
Tradisi Lebaran Ketupat diyakini berakar dari dakwah Wali Songo, tokoh penyebar Islam di Jawa pada abad ke-15.
Mereka memperkenalkan ketupat sebagai media dakwah yang sarat filosofi. Bentuk ketupat yang segi empat dianggap melambangkan kesempurnaan hidup, sementara anyaman daun kelapa yang rumit mencerminkan kesalahan manusia yang saling terkait.
Baca Juga: Timnas Indonesia Lolos ke Final FIFA Series 2026 Usai Kalahkan Saint Kitts and Nevis 4-0
Dengan memakan ketupat, umat diajak untuk saling memaafkan, membersihkan diri dari dosa, dan kembali kepada fitrah.
Wali Songo menggunakan simbol makanan ini untuk mendekatkan ajaran Islam dengan budaya lokal.
Tradisi kupatan kemudian berkembang pesat di Jawa, Madura, Lombok, hingga sebagian wilayah Sumatra, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Syawal.
Baca Juga: Cegah Balap Liar hingga Tawuran, Polres Tanjung Perak Sisir Titik Rawan di Surabaya Utara
Biasanya ketupat tak disajikan begitu saja, namun dipadukan dengan sayur lodeh atau opor ayam sebagai pelengkap.
Sejarah dan Perkembangan
Pada masa Kesultanan Demak di abad ke-15 hingga ke-16, Lebaran Ketupat mulai dipraktikkan secara luas sebagai bagian dari budaya kerajaan dan masyarakat pesisir Jawa.
Kupatan menjadi puncak rangkaian Syawal, dirayakan dengan doa bersama, silaturahmi, dan makan ketupat bersama keluarga serta tetangga.
Memasuki era modern, tradisi ini tetap lestari dan bahkan berkembang menjadi festival rakyat di beberapa daerah.
Baca Juga: Surabaya Siap Luncurkan Voucher Parkir Digital, Jadi Kado HJKS ke-733
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Lebaran Ketupat sering dipadukan dengan acara pasar malam, ziarah ke makam leluhur, hingga pesta rakyat.
Di Lombok, tradisi ini dikenal dengan nama Lebaran Topat, yang dirayakan dengan meriah di pesisir pantai, melibatkan ribuan warga dan wisatawan.
Filosofi Ketupat
Ketupat bukan sekadar makanan, melainkan simbol ajaran Islam yang penuh makna. Anyaman daun kelapa melambangkan kesalahan manusia yang rumit, sementara isi beras putih di dalamnya mencerminkan kesucian setelah memohon ampun.
Bentuk segi empat ketupat dianggap sebagai simbol kesempurnaan hidup, sedangkan tradisi makan bersama menegaskan nilai kebersamaan, silaturahmi, dan rasa syukur.
Dengan demikian, ketupat menjadi media dakwah yang sederhana namun efektif, mengajarkan umat Islam untuk selalu menjaga hubungan baik dengan sesama dan memperkuat ikatan sosial.
Hingga kini, Lebaran Ketupat tetap menjadi bagian penting dari budaya Indonesia, memperkuat silaturahmi sekaligus menjaga warisan spiritual yang kaya makna. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari