Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Asal Usul Taksi di Surabaya, Jadi Kendaraan Sewa Warga Eropa

Dimas Mahendra • Kamis, 26 Maret 2026 | 14:41 WIB
MEWAH: Di awal kemunculannya, taksi adalah kendaraan sewaan warga Eropa di Surabaya. (IST/SOERABAYA TEMPO DOELOE)
MEWAH: Di awal kemunculannya, taksi adalah kendaraan sewaan warga Eropa di Surabaya. (IST/SOERABAYA TEMPO DOELOE)

RADAR SURABAYA - Jauh sebelum taksi online menjamur seperti sekarang, Kota Surabaya sudah mengenal layanan taksi sejak masa kolonial Belanda. 

Moda transportasi ini awalnya bukan untuk semua kalangan, melainkan identik dengan kendaraan mewah yang hanya digunakan masyarakat elite.

Baca Juga: Fraksi PDIP DPRD Jatim Minta WFH Rabu Tidak Ganggu Layanan Publik

Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan keberadaan taksi di Surabaya diperkirakan sudah ada sejak tahun 1920–1930-an. 

Tepatnya saat kota ini menjadi pusat perdagangan penting di Hindia Belanda.

“Taksi pertama kali ada di Surabaya pada masa kolonial, sekitar tahun 1920 sampai 1930-an. Sebagian dikelola pemerintah karena berkaitan dengan trayek dan aturan lalu lintas, tapi ada juga yang dikelola swasta dalam jumlah terbatas,” ujarnya, Kamis (26/3).

Baca Juga: Wagub Emil Minta Kepala Daerah Waspada Dampak Konflik Global, Tekan Inflasi dan Cegah Panic Buying di Jatim

Pada masa itu, taksi bukan seperti sekarang yang mudah dijumpai di jalan. 

Layanan ini lebih mirip mobil sewaan lengkap dengan sopir pribadi, dan umumnya digunakan oleh warga Eropa yang tinggal di Surabaya.

Menurut pria yang akrab disapa Wawan, harga mobil yang sangat mahal membuat tidak semua orang mampu memilikinya, sehingga taksi menjadi alternatif transportasi yang praktis sekaligus bergengsi.

Baca Juga: DPRD Jatim Minta WFH Rabu Tak Ganggu Layanan Publik, Sektor Pendidikan hingga PU Diminta Dikecualikan

“Dulu taksi itu seperti mobil sewaan dengan sopir. Yang memakai biasanya kalangan Eropa atau orang berduit. Jadi kesannya eksklusif dan prestisius,” jelasnya.

Memasuki era setelah kemerdekaan, khususnya sekitar tahun 1970-an, wajah taksi di Surabaya mulai berubah mengikuti tren di Eropa dan Amerika. 

Saat itu mulai muncul taksi modern yang menggunakan alat ukur tarif berdasarkan jarak tempuh.

“Sekitar tahun 70-an mulai ada taksi modern dengan argometer. Tarif dihitung berdasarkan kilometer, dan pengelolanya sudah murni perusahaan swasta,” katanya.

Baca Juga: Kalaksa BPBD Jawa Timur Tinjau Banjir Besar di Pasuruan, Ribuan Warga Terdampak 

Pada masa itu, taksi masih tergolong kendaraan mahal. Interior mobil ditata rapi dan standar pelayanan dibuat khusus agar tetap terlihat eksklusif. 

Kehadiran taksi modern juga perlahan menggeser moda lama seperti sedan tambangan, yaitu mobil mewah yang disewakan harian.

Menariknya, popularitas taksi di masa itu juga didorong oleh film-film nasional lawas yang sering menampilkan adegan menggunakan taksi, sehingga masyarakat semakin mengenal dan tertarik memakai layanan tersebut.

Baca Juga: Kemenhub Pertimbangkan Kenaikan Harga Tiket Pesawat 

“Taksi dulu sering muncul di film-film lama. Itu bagian dari promosi juga, supaya masyarakat terbiasa menggunakan taksi sebagai transportasi praktis,” tutur Wawan.

Kini, setelah lebih dari satu abad sejak pertama kali mengaspal di Surabaya, taksi telah berubah dari simbol kemewahan menjadi moda transportasi umum yang bisa diakses siapa saja, bahkan bersaing dengan layanan transportasi berbasis aplikasi yang semakin berkembang. (dim/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Surabayapedia #surabaya #Hindia #kendaraan #warga #Belanda #taksi #asal usul #eropa #sewa