RADAR SURABAYA - Lebaran di Indonesia tidak pernah lepas dari kehadiran ketupat. Hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda ini bukan sekadar pelengkap opor ayam atau rendang, melainkan simbol budaya yang sarat makna.
Tradisi menyajikan ketupat diyakini bermula dari dakwah Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, yang memperkenalkan makanan ini sebagai media dakwah Islam di Jawa.
Sejarah Ketupat
Ketupat sudah dikenal sejak masa kerajaan Hindu-Buddha sebagai makanan berbahan beras yang dibungkus janur.
Baca Juga: Tradisi Turun Temurun Berbagi Makanan saat Lebaran Ketupat ala Warga Sukolilo Baru Surabaya
Namun, peran besar Sunan Kalijaga menjadikan ketupat lebih dari sekadar makanan. Ia memperkenalkan ketupat sebagai simbol dakwah Islam, yang kemudian melekat dalam tradisi Idul Fitri.
Di Jawa, ketupat menjadi bagian dari perayaan Lebaran Ketupat atau Syawalan, yang biasanya dirayakan sepekan setelah Idul Fitri.
Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara dan bahkan dikenal di Malaysia, Brunei, hingga Filipina.
Baca Juga: Mengapa Ramadan dan Takbiran Identik dengan Petasan?
Filosofi Ketupat
Filosofi ketupat sangat erat dengan budaya Jawa. Kata kupat merupakan akronim dari ngaku lepat, yang berarti mengaku kesalahan.
Filosofi ini menekankan pentingnya pengakuan dosa dan permintaan maaf setelah Ramadan. Anyaman janur kuning melambangkan kesederhanaan dan ikatan sosial, sementara bentuk wajik ketupat mencerminkan keteraturan hidup.
Isi beras yang dibungkus janur lalu dimasak hingga matang melambangkan nafsu duniawi yang dibersihkan melalui proses penyucian diri.
Baca Juga: Tabrak Tiang PJU dan Pohon, Mobil Terbalik di Jalan Dharmahusada Indah Surabaya
Perkembangan Tradisi
Ketupat berkembang menjadi ikon kuliner Nusantara. Di banyak daerah, ketupat disajikan seminggu setelah Idul Fitri sebagai penanda berakhirnya puasa Syawal.
Hidangan ini biasanya disajikan bersama lauk khas seperti opor ayam, sambal goreng ati, atau rendang.
Tradisi ketupat juga hadir dalam budaya lokal di Bali dan Lombok, yang menjadikannya bagian dari upacara adat.
Dengan demikian, ketupat tidak hanya menjadi simbol Islamisasi Jawa, tetapi juga bagian dari identitas kuliner dan budaya Indonesia.
Hingga kini, ketupat tetap menjadi ikon kuliner Lebaran yang menyatukan keluarga dan masyarakat dalam suasana penuh makna. (nur)