Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Masjid Raudhatul Musyawaroh Jadi Jejak Sejarah Islam di Tengah Kota Surabaya

Andy Satria • Selasa, 17 Maret 2026 | 14:22 WIB
MEGAH: Masjid Raudhatul Musyawaroh atau yang  dikenal sebagai Masjid Tamiriyah merupakan salah satu bangunan bersejarah di tengah Kota Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
MEGAH: Masjid Raudhatul Musyawaroh atau yang  dikenal sebagai Masjid Tamiriyah merupakan salah satu bangunan bersejarah di tengah Kota Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Masjid Raudhatul Musyawaroh atau yang dikenal sebagai Masjid Tamiriyah merupakan salah satu bangunan bersejarah di tengah Kota Surabaya yang hingga kini masih berdiri sekaligus berfungsi.

Keberadaannya sebagai saksi perjalanan perkembangan Kota Pahlawan. 

Baca Juga: Bank Jatim Konsisten Dukung Mudik Gratis Radar Surabaya, Perkuat Tradisi Silaturahmi Lebaran

Masjid yang berada di Jalan Indrapura, tepatnya berseberangan dengan kantor DPRD Jawa Timur itu, menyimpan kisah panjang sejarah perkembangan Islam di Surabaya.

Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan atau yang akrab disapa Wawan menjelaskan, masjid tersebut awalnya berdiri di kawasan alun-alun Surabaya lama. Lokasi tersebut kini menjadi area kompleks Tugu Pahlawan.

“Dahulu masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Suropringgo, karena letaknya berada di area Keraton Surabaya. Diperkirakan posisinya berada di antara Jalan Bubutan dan Jalan Tembaan,” ujarnya.

Baca Juga: Mudik Gratis Radar Surabaya Sudah Berlangsung 21 Tahun,  Wujud Kontribusi Media untuk Masyarakat

Namun, perubahan tata kota pada masa pemerintahan kolonial Belanda membuat masjid tersebut harus berpindah lokasi. 

Saat itu pemerintah kolonial tengah mengembangkan berbagai infrastruktur baru, seperti kantor pemerintahan dan pusat kegiatan niaga.

Akhirnya, Masjid Suropringgo atau Masjid Raudhatul Musyawaroh harus digusur dari lokasi awalnya dan dipindahkan ke tempat baru di kawasan Jalan Indrapura. 

Baca Juga: Berbagi Makna untuk Indonesia, BRI Santuni 8.500 Anak Yatim dan Tegaskan Komitmen Peduli Negeri

Menurut Wawan, proses perpindahan tersebut terjadi pada abad ke-19. 

Pemerintah kolonial bersama pemerintah lokal, termasuk bupati Surabaya saat itu, kemudian membangun kembali masjid tersebut di lokasi yang baru.

“Pembangunan ulang masjid diperkirakan berlangsung sekitar tahun 1848 hingga 1852,” jelasnya.

Di lokasi barunya, masjid dibangun dengan area yang cukup luas. 

Baca Juga: Penumpang Pesawat Tembus 1,53 Juta dalam Tiga Hari gara-gara Tarif Domestik Diskon

Bangunan itu juga dilengkapi dengan sebuah menara yang menjadi ciri khasnya. 

Meski telah melewati berbagai perubahan zaman, Masjid Raudhatul Musyawaroh tetap berdiri sebagai bagian dari perjalanan sejarah umat Islam di Surabaya.

Wawan menuturkan, hingga kini masyarakat yang tergabung dalam pengurus masjid terus berupaya menjaga dan melestarikan bangunan tersebut. 

Baca Juga: Pertamina Dukung Mudik Gratis Radar Surabaya 2026,  Hemat BBM dan Tekan Risiko Perjalanan

Tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai salah satu destinasi sejarah yang dapat dikunjungi masyarakat.

“Masjid ini menjadi salah satu jejak penting sejarah Islam di Surabaya. Siapa pun boleh datang untuk melihat dan mempelajari sejarahnya,” pungkasnya. (sam/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#bangunan #perkembangan #dprd jawa timur #Pusat #pemerintahan #kota pahlawan #Kegiatan #masjid #kantor #perjalanan #bersejarah #Niaga #Nur Setiawan