RADAR SURABAYA – Ramadan yang memasuki malam ke-27 biasanya disambut dengan peningkatan semangat ibadah di kalangan umat Islam. Pada fase akhir bulan suci ini, banyak orang berupaya menghidupkan malam dengan berbagai amalan, termasuk salat tarawih.
Di tengah masyarakat, pembahasan mengenai keutamaan salat tarawih pada tiap malam Ramadan kerap merujuk pada sejumlah kitab keislaman klasik. Salah satu yang sering disebut adalah Durratun Nashihin, yang memuat penjelasan tentang fadhilah tarawih sepanjang bulan Ramadan.
Baca Juga: Sholat Tarawih Malam ke-23, Dibangunkan Kota di Surga
Dalam kitab tersebut dijelaskan adanya keutamaan khusus bagi mereka yang menunaikan salat tarawih pada malam ke-27 Ramadan. Riwayat yang dikutip menggambarkan kemudahan seorang hamba ketika melewati jembatan Shirathal Mustaqim pada hari kiamat.
Lafaz yang sering dinukil berbunyi:
وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ وَاْلعِشْرِيْنَ جَازَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ عَلَى الصِّرَاطِ كَاْلبَرْقِ اْلخَاظِفِ
Artinya:
“Pada malam kedua puluh tujuh, di hari kiamat ia melewati jembatan Shirathal Mustaqim secepat sambaran kilat.”
Baca Juga: Keutamaan Tarawih Malam ke-22 Ramadan, Selamat dari Kesusahan pada Hari Kiamat
Dalam ajaran Islam, Shirathal Mustaqim digambarkan sebagai jembatan yang harus dilalui manusia setelah hari kiamat. Kecepatan seseorang melintasinya dipercaya berkaitan dengan amal ibadah yang dilakukan selama hidup di dunia.
Sebagian orang digambarkan dapat melintas sangat cepat seperti kilat, ada pula yang secepat angin atau lari kuda. Namun ada juga yang berjalan perlahan, bahkan merangkak ketika melewatinya.
Baca Juga: Keutamaan Tarawih Malam ke-21 Ramadan, Allah Janjikan Rumah Cahaya di Surga
Karena itu, keutamaan tarawih pada malam ke-27 sering dipahami sebagai dorongan agar umat Islam semakin menjaga ibadah di malam-malam akhir Ramadan. Terlebih, malam tersebut juga sering disebut sebagai salah satu malam yang berpotensi bertepatan dengan Lailatul Qadar menurut sebagian pendapat ulama. (fid/fir)
Editor : M Firman Syah