RADAR SURABAYA - Jauh sebelum Surabaya berkembang menjadi kota metropolitan seperti saat ini, kawasan di sekitar sungai telah menjadi pusat kehidupan masyarakat.
Salah satu titik penting yang merekam jejak awal peradaban itu adalah Kali Pegirian yang berada di kawasan Ampel.
Baca Juga: Sidak Arus Mudik di Surabaya, Kapolri Minta Warga Jangan Paksakan Diri jika Capek
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono menjelaskan pelabuhan sungai di Kali Pegirian pada awal abad ke-17 telah menunjukkan dinamika kehidupan masyarakat yang cukup berkembang.
Menurutnya, kawasan tersebut berkaitan erat dengan keberadaan perkampungan tua Ampel Denta, yang sejak lama dikenal sebagai pusat aktivitas sosial, keagamaan, sekaligus perdagangan.
“Pelabuhan kali Pegirian pada awal abad itu sudah menunjukkan adanya dinamika peradaban kampung yang disebut Ampel Denta,” kata Nanang, Minggu (15/3).
Baca Juga: Polemik Fasum Berubah Jadi Kafe, Pemkot Surabaya Sebut Sudah Ada Replanning
Ia menjelaskan Kali Pegirian merupakan anak sungai dari Kali Surabaya atau yang kini lebih dikenal sebagai Kalimas.
Sejak abad ke-15, jalur air tersebut telah menjadi penghubung penting antara kawasan Ampel Denta dan wilayah Bungkul.
Keberadaan jalur sungai itu membuat kawasan Ampel tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan sejumlah permukiman lain yang berkembang di sekitarnya.
“Ampel Denta dengan Kali Pegirian berada di sebelah timurnya Ampel dan berseberangan dengan perkampungan Boto Putih, Kebon Dalem, dan Kertopaten. Semua itu menunjukkan bahwa kawasan tersebut sudah menjadi wilayah permukiman sejak lama,” jelasnya.
Secara geografis, Kali Pegirian mengalir di antara perkampungan kuno tersebut.
Di sisi barat terdapat Ampel Denta, sementara di sisi timur berdiri kawasan Kebon Dalem dan kampung-kampung lain yang juga menjadi bagian dari struktur awal kota.
“Jadi bisa dikatakan Kali Pegirian mengalir di antara perkampungan kuno Ampel Denta di barat dan Kebon Dalem di timur,” tambah Nanang.
Keberadaan Kali Pegirian juga tercatat dalam dokumen sejarah kolonial. Salah satunya dalam catatan Laksamana Cornelis Speelman ketika datang ke Surabaya pada tahun 1677 untuk menghadapi pemberontakan Trunojoyo.
Kedatangan Speelman tersebut terjadi sekitar enam dekade setelah kunjungan Jan Pieterszoon Coen ke Surabaya pada tahun 1617.
Dalam catatan militernya, Speelman menggambarkan jalur pergerakan pasukan serta peta serangan terhadap Trunojoyo.
Ia menyebutkan bahwa pasukannya memasuki kawasan Surabaya melalui Kali Pegirian.
Baca Juga: Mudik Bukan Perjalanan Biasa, Kendaraan Perlu Persiapan Ekstra
“Speelman secara jelas mencatat bahwa ia masuk melalui Kali Pegirian ketika datang menghadapi Trunojoyo pada 1677,” ujar Nanang.
Ia menambahkan bahwa muara Kali Pegirian pada masa itu berada di sebelah utara Kampung Ampel dan Kebon Dalem, menjadikannya jalur penting menuju pusat aktivitas di Surabaya.
Sementara itu, Kali Surabaya atau Kalimas memiliki alur yang berbeda.
Sungai utama tersebut berada di sisi barat dan mengalir ke arah barat hingga akhirnya bermuara di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Teluk Lamong.
Pada masa lalu, aliran Kalimas memiliki jalur yang berkelok-kelok setelah melewati kawasan Pecinan.
“Setelah melalui Kampung Pecinan, alurnya berkelok ke arah barat, kemudian terus menuju Krembangan hingga bermuara di sana,” jelas Nanang.
Seiring berjalannya waktu, kawasan di sekitar Kalimas semakin berkembang, terutama setelah kedatangan sejumlah tokoh VOC seperti Hendrik Brouwer pada 1612, Jan Pieterszoon Coen pada 1617, serta Speelman pada 1677.
Kedatangan para tokoh VOC tersebut menandai semakin kuatnya pengaruh kolonial di Surabaya, termasuk dengan berdirinya kawasan permukiman orang-orang Eropa di sekitar pusat perdagangan.
“Dalam perkembangannya kemudian muncul perkampungan Eropa yang berada di sekitar lokasi trading post VOC,” kata Nanang.
Baca Juga: Surabaya Dorong Parkir Digital, Dishub Gandeng Bank Besar untuk Edukasi Warga
Trading post atau kantor dagang VOC itu sendiri dibangun oleh Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1617 di sisi barat Kalimas.
Lokasi tersebut berada tepat berseberangan dengan kawasan Pecinan yang lebih dahulu berkembang sebagai pusat aktivitas perdagangan masyarakat Tionghoa.
“Kampung Pecinan sebenarnya sudah ada lebih dulu. Dalam istilah Tionghoa kawasan itu disebut Si-Shui, yang berarti empat air atau empat sungai,” terang Nanang.
Baca Juga: Kapolri Tinjau Arus Mudik di Stasiun Surabaya Gubeng Baru H-5 Lebaran, Instruksikan Patroli Maksimal
Menurutnya, istilah tersebut menggambarkan posisi strategis kawasan Pecinan yang berada di antara jaringan sungai yang menjadi jalur utama perdagangan.
Dari pertemuan berbagai komunitas—penduduk lokal, pedagang Tionghoa, hingga orang Eropa—Surabaya kemudian tumbuh sebagai kota pelabuhan yang dinamis.
“Sejak awal Surabaya berkembang dari kawasan sungai. Di situlah peradaban kampung, perdagangan, dan pertemuan berbagai budaya mulai terbentuk,” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa